Senin, 21 Juni 2010

Morfosintaksis



1. Apa persamaan dan pebedaan morfologi Indonesia dengan Sharaf, sama persiskah atau tidak? Jelaskan dengan contoh!

Morfologi atau tata bentuk pada kajian linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal (Verhaar, 1984 : 52). Dengan perkataan lain, morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi kata-kata. Dalam linguistik bahasa Arab, morfologi ini disebut tasrif yaitu perubahan suatu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam bentuk untuk mendapatkan makna yang berbeda (baru). Tanpa perubahan bentuk ini, maka yang berbeda tidak akan terbentuk (Alwasilah, 1983 : 101).
Walaupun dalam pengertian terminologi berbeda tetapi secara fungsional sama yaitu, kedua pengertian tadi sama-sama membahas proses pembentukan kata. Namun terdapat sedikit perbedaan antara morfologi Indonesia dengan Arab. Dalam proses pembentukan kata-nya sharaf lebih kompleks dibandingkan dengan bahasa Indonesia, cara pembentukannya dengan tashrif اصطلحى dan لغوى dimana Ishtilahi untuk mengetahui, bentuk lain dari kata dasar misalnya, dalam bahasa Indonesia, digunakan kata teman, berteman, pertemanan, menemani, ditemani, dan lain-lain. Maka begitu juga dengan bahasa Arab, contohnyaفَعَلَ-يَفْعُلُ-فَعْلاً dan seterusnya sedangkan Lughawi untuk mengetahui jumlah dan jenis pelakunya. Berikut contohnya,
نصر : dia 1 pria menolong نصرت: dia 1 wanita menolong
نصرا : dia 2 pria menolong : نصرتاdia 2 wanita menolong
نصرو : mereka pria menolong : نصرناmereka wanita menolong
Bahasa Indonesia hanya terdapat satu proses pembentukan saja. Bahasa Indonesia tidak mengenal maskulin dan feminim dalam menentukan jenis pelaku pada suatu kata, untuk mengetahuinya maka harus mengacu kepada subjek awal pada klausa atau kalimat.

2. Apa fungsi morfologi bagi Anda sebagai penerjemah dan Analisislah sebuah kalimat dengan menggunakan teori Afiksasi?

Morfologi sangat dibutuhkan oleh mutarjim (penerjemah) ketika membuat karya terjemahan khususnya menerjemahkan teks yang berbahasa Arab. Morfologi adalah ilmu dasar bagi seorang penerjemah yang memberikan skema secara sistematis mengenai proses terbentuknya suatu kata baru. Ketika seorang mutarjim sudah dapat menguasai ilmu ini maka dengan mudah ia dapat mengidentifikasi proses perubahan suatu kata dasar atau menjadi kata berimbuhan yang dalam prosesnya dengan pengimbuhan (afiksasi). Selain itu, morfologi juga memudahkan penerjemah dalam menentukan pilihan kata (diksi). Berikut analisis contoh kalimat dalam bahasa Indonesia dengan teori afiksasi-nya.
“Andi mendengar suara gemuruh bangunan yang disebabkan karena adanya gempa tektonik.”
Pada kalimat diatas terdapat beberapa kata yang mengalami proses afiksasi yaitu ‘mendengar’, ’gemuruh’, ’bangunan’, dan ’disebabkan’. Jika pada kata dasar tersebut tidak mengalami proses perubahan bias dibayangkan koherensi antar kata tersebut tidak akan ada. Adapun afiks yang ditambahkan di depan awalan atau prefiks; yang ditengah disebut infiks; yang dibelakang disebut sufiks; yang didepan dan dibelakang adalah konfiks. Contohnya adalah sebagai berikut.
Prefiks : mendengar
Infiks : gemuruh
Sufiks : bangunan
Konfiks : disebabkan

3. Apa yang Anda ketahui dari bentuk inflektif dalam bahasa Indonesia dan Arab?

Pembentukan kata secara inflektif tidak membentuk kata baru, atau kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konjugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina atau ajektifa disebut deklinasi. Dalam bahasa Indonesia sendiri tidak mengenal bentuk inflektif seperti yang terjadi pada bahasa Inggris atau beberapa bahasa lain yang mengenal bentuk tersebut. Jika diperhatikan dan dikaitkan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, maka bentuk infleksi dalam bahasa Indonesia adalah pengimbuhan. Penambahan penanda (misalnya-r) pada verba drive dalam bahasa Inggris mengubah kedudukan verba menjadi subjek dengan menjadi kata driver. Selanjutnya proses infleksi pemakaian penanda jamak dengan menambahkan (misalnya-s) drivers yang padanan kata-nya sepadan dengan para pengemudi dalam bahasa Indonesia. Jadi bisa disimpulkan bahwa proses infleksi pada bahasa Inggris sama saja dengan afiksasi dalam bahasa Indonesia.
Berbeda dengan kebanyakan bahasa lain, kelas kata dalam bahasa Arab terbagi hanya menjadi tiga, yaitu ism (nomina), fi'l (verba), dan ђarf (kata tugas). Bentuk lainnya, seperti adjektiva (shifah), dhzarf (adverbia), dlamīr (pronomina), dan artikel demonstratif (al-isyārah), ketiganya masuk dalam kategori ism (Dahdah 1981: 25). Selain harf, semua bentuk yang termasuk dalam kategori nomina dan verba dapat berinfleksi. Dengan kata lain, pembahasan tentang infleksi pada nomina dalam bahasa Arab berkaitan juga dengan pembahasan infleksi pada semua kategori yang ada di dalamnya.
Kata-kata dalam bahasa-bahasa yang berfleksi, seperti bahasa Arab, bahasa Latin, dan bahasa Sansekerta, untuk dapat digunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. Alat yang dapat digunakan untuk penyesuaian bentuk itu biasanya berupa prefiks, infiks, dan sufiks; atau juga modifikasi internal, yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu.

4. Berikan sebuah contoh dari hasil terjemahan yang menunjukan adanya konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif!

Untuk menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lainnya adalah dengan konjungsi. Konjungsi adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis baik antara kata dengan kata frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, dan kalimat dengan kalimat. Dilihat dari tingkat kedudukannya konjungsi ada dua jenis yaitu, konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif.
Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang berkedudukan sederajat. Sedangkan konjungsi subordinatif ialah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat (klausa) atau lebih yang kedudukannya tidak sederajat. Artinya kedudukan klausa yang satu lebih tinggi (klausa utama) dan kedua sebagai klausa bawahan, lebih redih dari yang pertama. Berikut hasil terjemahan yang mengandung unsur konjungsi.
“ Terdapat beberapa hadis yang melarang penulisan hadis antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Abi Said al Hudry yang mengatakan: Rasulullah saw berkata, jangan engkau tulis perkataanku kecuali Alquran dan hendaknya dihapus. Ucapkan saja perkataanku itu. Siapa saja yang berbohong dengan sengaja maka ia ditempatkan di neraka. Sementara itu, Bukhari datang menemui Ibnu Abbas dan berkata, ketika Nabi sedang merasa sakit yang teramat sangat dia berkata. Datangkan padakau sebuah buku, akan kutulis buat kalian agar kalian tidak tersesat lagi. Dan Umar pun berkata nabi telah mengalahkan rasa sakitnya itu dan kitab Allah sudah cukup bagi kami.”
Dalam terjemahan tadi terdapat “sementara itu” kata ini menunjukan kedudukannya sebagai konjungsi koordinatif menghubungkan mengurutkan. Sedangkan pada kata “ketika” menandakan konjungsi subordinatifmenghubungkan menyatakan waktu.
Berikut ini juga dipaparkan terjemahan Alquran surat Yaasin ayat 47 oleh Depag.
Apabila dikatakan orang kepada mereka: “sedekahkanlah sebagian yang dianugerahkan Allah kepadamu” lalu berkata orang-orang kafir kepada orang-orang beriman; “pantaskah bagi kita memberi makan orang yang telah ditetapkan Allah kemiskinannya jika Allah meghendaki tentu akan diberinya makan” kamu ini tidak lain hanya dalam kesesatan nyata.
Terlihat jelas terdapat berapa kata yang menunjukan pronomina atau kata ganti dalam kalimat diatas. Misalnya.
Mereka : fungsi kata “mereka” adalah sebagai kata pengganti jamak dari kata “orang-orang kafir.”
Kita : kata ini mengacu pada orang kafir
Kemiskinannya : akhiran “nya” mengacu pada orang-orang beriman