Selasa, 07 Juni 2011
Sesaat Kau Petik Dawai
Sesaat kau petik dawai sekan nada jiwamu kau bawa
Mengalun, berayun dalam partitur, gerak kord gitar di genggaman
Hati mengikuti harmoni lagu, dimana kord yang sulit digenggam itu?
Ada yang mesti disebut tapi luput dari ingatan kord-kord
tak lagi tergenggam seperti yang biasa dimainkan
dawai gitar jiwamu mengalun berayun dala partitur kord melantunkan
suka duka yang sudah biasa
ku harap karena kau sudah tersetem dengan baik rasakanlah resapilah
setiap nada-nada baru yang telah kord guratka padamu
nikmatilah tiap simponi bersamanya
bersama dalam setiap lantunan kehidupan
Dawai Gitar
Sambil terus memetik dalam lagu
Dawai gitar mnertawai si pemetik yang nestapa; sesekali
Melamun membayangkan kisah asmaranya dulu dengan si kenang
Agar tak terhapuskan oleh waktu
Si pemetik menghentikan permainannya
Dawai-dawai telah tersetem dengan baik
Dalam sisa lamunan, dawai gitar seperti
Mendengar rintihan kenang yang lara
Tak tahan, hati seperti disayat sembilu, dawai
Membiarkan dirinya melenting dari tambatan gitar
Aku Mega
Aku Mega
Aku sang Mega yang tak pernah bisa berlama-lama menemanimu
jiwaku berkelana bersama Surya dan Purnama
Diriku bisa saja berubah menjadi malam tanpa kehangatan
lalu kau akan melupakanku dengan berbagai macam pergulatan
kau tidak bisa melihat pekatku
atau sedikit saja menikmati kesejukanku dengan semilir desahku
yang mengelus tengkukmu
terus saja kau pecundangi Aku dengan pergulatanmu
walau kusajikan kerjap Bintang dan kilau Purnama
maupun rintikan hujan
kau begitu saja terlelap melupakanku
begitu ku menjadi pagi kau masih saja tak peduli
kuberi kau kehangatan namun masih saja
kau terhenyak dalam mimpi-mimpi..
Aku sang Mega yang tak pernah bisa berlama-lama menemanimu
jiwaku berkelana bersama Surya dan Purnama
Diriku bisa saja berubah menjadi malam tanpa kehangatan
lalu kau akan melupakanku dengan berbagai macam pergulatan
kau tidak bisa melihat pekatku
atau sedikit saja menikmati kesejukanku dengan semilir desahku
yang mengelus tengkukmu
terus saja kau pecundangi Aku dengan pergulatanmu
walau kusajikan kerjap Bintang dan kilau Purnama
maupun rintikan hujan
kau begitu saja terlelap melupakanku
begitu ku menjadi pagi kau masih saja tak peduli
kuberi kau kehangatan namun masih saja
kau terhenyak dalam mimpi-mimpi..
Gadis Pemetik Gitar
Dipetiknya luka riwayat
Yang tersayat dawai waktu
Nyeri jemari merambat
Ke pembuluh saraf
Kerjap lampu merkuri
Merupa langkah pria sepanjang jalan
gejolak binal tersingkap
dibalik relung-relung nestapa
dihirupnya, diresapinya, dirasanya
suara malam menjadi butir syair pilu
guratan nada kian membuncah
larungkan jiwa ke harmoni sunyi
nyeri terus merambat
ke saraf-saraf dengan perih di ulu hati
tak ada kawan tak ada lawan tak ada kasih
hanya nada untai harmoni
Langganan:
Postingan (Atom)