Rabu, 25 September 2013

*Surat Kau


Kau tak ada di kakiku
Ketika aku membutuhkan langkahmu
untuk merambah rantauku.


Kau tak ada di tanganku
ketika aku membutuhkan jarimu
untuk menggubah gundahku.

Kau tak ada di bibirku
ketika aku membutuhkan aminmu
untuk meringkas inginku.

Kau tak ada di mataku
ketika aku membutuhkan pejammu
untuk merengkuh tidurku.

Mungkin kau sudah menjadi aku
sehingga tak perlu lagi aku menanyakanmu.

*Nukilan Puisi Jokpin,
Pada sebuah masa di mana aku masih saja mengingat dirimu yang memberikan sejumput manis kenangan. Apa kamu masih dalam keadaan baik-baik saja? Ah sudahlah semuanya sudah aku pasrahkan pada Yang berkuasa menciptakan kenangan. "Dan doakan aja kitanya ya Nu!"… Amiin.

Ibn, 25/09/13

Rabu, 11 September 2013

Bahasa Perempuan

Baru- baru  ini terdapat perbincangan menarik mengenai fenomena sok nginggris yang menjadi bahan olok-olokan banyak orang. Pembicaraan ini melibatkan pedangdut Zaskia Gotik yang kena tipu oleh pasangan prianya bernama Vicky Prasetyo. Tapi dalam tulisan kali ini saya tidak akan membicarakan masalah “kontroversi dan konspirasi kemakmuran” yang telah dibuat olehnya. Sedikit berlainan memang dengan pembahasan yang sedang ramai ini. 

Saya sangat kecewa melihat perlakuan seorang Vicky terhadap perempuan. Bagaimana tidak, seorang laki-laki seharusnya bisa menjadi imam bagi pasangan perempuannya. Tapi yang terjadi adalah sebuah Modus alias Modal Dusta yang dilakukan olehnya. Dalam tulisan ini saya tidak mau menggunjingnya lebih jauh tetapi saya ingin mengatakan sekaligus mengagumi sosok seorang perempuan, terlebih Ibu saya, almarhum adik perempuan saya dan juga seorang perempuan yang selalu memberikan rindu pada saya.

Belum lama kasus ini mencuat, saya sempat menemukan sebuah buku mengenai perempuan. Buku itu berjudul Bahasa Perempuan, Sebuah Potret Ideologi dan Perjuangan. Saya sangat tertarik, mungkin saja saya bisa memahami perempuan yang saya rindu melalui buku ini. Ternyata buku ini bukanlah cara bagaimana kita bisa mendapatkan cinta seorang perempuan. Tetapi yang ditekankan pada tulisan ini adalah bagaimana kita bisa menghargai seorang perempuan melalui bahasa-bahasa yang dipergunakannya. Bisa dikatakan bahwa bahasa perempuan dapat disikapi sebagai wacana.

Mengapa bahasa perempuan bisa dikatakan sebagai wacana? Bahasa perempuan dapat mengatakan, menuliskan, atau membahasakan sebuah peristiwa, pengalaman, pandangan dan kenyataan hidup tertentu. Bahasa perempuan selalu bisa merepresentasikan model pandangan hidup tertentu. Bahasa perempuan menjadi sebuah konstruksi dunia yang bulat dan utuh tentang ide hidup dan kehidupan yang sudah ditafsirkan dan diolah olehnya.
 
Lalu apakah laki-laki dan perempuan berbahasa secara berbeda? Di sini lah memang menjadi suatu kajian sosiolinguistik yang menarik. Ada pendapat yang mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki berbahsa secara berbeda. Sebaliknya ada juga yang berpendapat tidak menyetujui hal itu. Namun secara meluas pendapat pendapat pertama diterima bahwa perempuan dan laki-laki berbicara secara berbeda. Perempuan lebih sering menggunakan gaya tutur kooperatif, sebaliknya laki-laki cenderung menggunakan gaya tutur kompetitif. Laki-laki dan perempuan masih dipisahkan dalam dikotomi privat versus publik. Dikotomi di sini adalah dikotomi produksi versus reproduksi dan selanjutnya hasil pemisahan itu muncul dalam perbedaan bahasa juga penggunaannya. Perbedaan sikap juga menjadi dikotomi kepada tuturan laki-laki dan perempuan. 


Dalam bukunya J Coates, Women, Men, and Language dikatakan bahwa penggunaan bahasa yang dibedakan secara gender berperan signifikan dalam marginalisasi perempuan dalam pelbagai profesi, khususnya kemajuan dan perkembangan karir. Dalam pembahasan ini juga dikemukakan bahwa perlu adanya revisi karakteristik lembek strategi kooperatif wanita dalam tuturan dan analisis cara di mana perempuan akan dinilai jika mereka menggunakan strategi kompetitif dalam area publik mereka.

Dalam konteks Indonesia, pemahaman terhadap perempuan juga mengalami hal serupa. Cara pandang dan cara pikir masih lebih didominasi oleh cara laki-laki. Akibatnya, cara pandang yang terjadi masih belum komprehensif yang menciptakan ketimpangan komunikasi antargender. Perempuan lebih banyak memperoleh stigma yang tidak menguntungkan. 

Stigma-stigma itu semakin mensubordinasi posisi perempuan di hadapan laki-laki. Yang masih kurang dilakukan dalam memahami perempuan adalah memahami perempuan dari teks-teks yang dihasilkannya. Jika kita setuju dengan sebuah klaim bahwa “bahasa merupakan pedoman menuju realitas sosial”. Memahami dan meneliti bahasa yang dihasilkan perempuan akan semakin memahami realitas sosial yang bernama “perempuan”.

Bagaimana kaum perempuan menggunakan bahasa untuk mengemukakan pendapatnya adalah ladang yang menarik bagi pemahaman terhadap perempuan. Sebuah ungkapan bahwa “language reflects and creates our perception of the world” menjadi landasan memahami bagaimana perempuan melihat dunia agar terjadi perubahan perilaku pada pelbagai pihak dalam memandang eksistensi perempuan.

Perjuangan Perempuan dan Kematian Simbol

Situasi dan kondisi zaman sekarang ini menjadikan masyarakat berada dalam era konsumsi. Masyarakat yang ada sangat mendewakan konsumsi. Dalam era ini menurut penulis adalah zaman yang sangat berat bagi perempuan. Baudrillard mengatakan konsumsi adalah tindakan sistematis dalam memanipulasi tanda, dan untuk menjadi objek konsumsi, objek harus mengandung atau bahkan menjadi tanda. Maksudnya dalam mengkonsumsi objek tertentu otomatis kita juga mengkonsumsi tanda yang sama, dan secara tidak sadar kita mirip atau bahkan seragam dengan banyak orang yang berlomba-lomba mengkonsumsi tanda serupa. Inilah yang dimaksud dengan kode mengontrol apa yang kita konsumsi.

Era ini menjadikan banyak manipulasi dalam segala hal yang terkait dengan perempuan. Godaan merk, pencitraan, dan  label begitu intensif dan ekstensif menyerang perempuan. Bahkan sebuah produk berteknologi yang tampak “tidak ada apa-apanya” dan bebas nilai dan kepentingan dicurigai  dapat “meninabobokan” perempuan. Kecanggihan mesin cuci, misalnya dicurigai semakin memarginalkan perempuan. Para aktivis perempuan memandang bahwa kelengkapan sarana dan prasarana dalam mesin cuci semakin membuat kerasan perempuan untuk selalu berada di rumah. Perempuan secara bawah sadar semakin terdomestikkan dan terpinggirkan dari wacana publik. Teknologi canggih telah memenjarakan perempuan untuk tidak memberontak dan menerima begitu saja secara sukarela.


Dalam Iklan, barang-barang kendaraan, tempat tidur, rokok, mesin cuci, dan bahkan telepon genggam sering memanaatkan perempuan dengan eksploitasi tertentu. Iklan itu sangat menumbuhkan dan memperkokoh kebiasaan laki-laki dengan apa yang disebut dengan scopophilia., yakni kesenangan melihat. Akibatnya berkembanglah cara pikir laki-laki yang “menganggap orang lain sebagai objek, menundukkan mereka pada pandangan yang mengontrol. Hal yang sama juga dapat ditemukan dalam musik, seperti pop, rock dan dangdut. Tidak lengkap bila tidak ada penyanyi perempuan yang menjadi bahan “penglihatan” laki-laki. Tak mengherankan jika dosen bahasa saya pernah mengatakan kalau perempuan itu “komoditi”! Ah sudah terlalu banyak contohnya seperti para fans girlband ternyata sebagian besar adalah laki-laki. Oleh karena itu, perempuan begitu penting bagi kesenangan pandangan laki-laki. 

Mengapa sebuah simbol menjadi mati? Simbol akan mati jika ada upaya untuk memberikan kepada simbol itu tasiran yang sama sekali tetap, terbatas dan tidak boleh berubah. Literalisme kesesuaian ketat-kaku satu-lawan-satu antara simbol dan realitas , menghapuskan segala konotasi, pesan tambahan, dan sugesti imajinatif yang selalu dipunyai oleh sebuah simbol sejati. Simbolisme tidak dapat hidup dengan literalisme. Manusia tanpa simbolisme tidak dapat sungguh-sungguh hidup. Jika sebuah simbol harus tetap memiliki daya hidupnya, simbol itu harus senantiasa diselaraskan dan ditasirkan kembali di dalam konteks yang baru.

Dalam konteks bahasa perempuan, simbol-simbol pengarusutamaan gender akan tinggal menunggu aja atas dasar beberapa penyebab. Pertama, apabila pemaknaannya hanya dilakukan oleh perempuan dan dimonopoli oleh perempuan. Sementara lelaki hanya ditempatkan dalam posisi berseberangan, bahkan musuh yang harus dikalahkan. Jika memang keadannya seperti ini, yang terjadi adalah munculnya regime of truth dalam memaknai wacana public, termasuk didalamnya wacana perempuan. Kedua, apabila perempuan tetap berpikir partikular, meminta-minta perlindungan, kuota, jatah, keringan, tanpa mau menunjukkan prestasi, kerja keras, dan kehebatan-kehabatan lainnya yang membuat laki-laki mau mengakui secara objektif kelebihan perempuan itu. Ketiga, apabila peremuan lebih menyukai mengibar-ngibarkan “bendera peremupuan”dalam setiap aksi atau kegiatannya. 

Kritikan Megawati Soekarno Putri kepada SBY yang mengatakan bahwa presiden laki-laki selalu tidak pro perempuan karena tidak mengerti harga-harga pasar yang terkait dengan kebutuhan dapur, justru malah menjerumuskan posisi perempuan ke jurang subordinasi. Kritikan seperti ini malah menunjukkan ketidakmampuan dan kecemburuan pengkritiknya. Dengan kritikan ini menjadikan bumerang bagi perempuan tanpa bisa mengedepankan sisi objektif tanpa membedakan dikotomi jenis kelamin.

Dengan demikian, pemahamaman terhadap bahasa perempuan akan memperoleh maknanya ketika ditransformasikan ke dalam wacana perempuan. Wacana dalam hal ini dimaknai tidak sesempit dalam terminologi linguistik. Tetapi dimanai secra lebih luas, yakni kumpulan pernyataan yang menyediakan sebuah bahasa untuk berbicara tentang sebuah topik khusus pada peristiwa historis yang khusus pula.

Jadi, bahasa perempuan pada hakikatnya adalah sebuah wacana sebagai sistem representasi, yakni cara mengatakan, cara, menuliskan, atau membahasakan peristiwa, pengalaman, pandangan, dan kenyataan hidup tertentu. Bahasa perempuan selalu merepresentasikan model pandangan hidup tertentu, yakni gambaran sebuah konstruksi dunia yang bulat dan utuh tentang ide hidup dan kehidupan yang sudah ditasirkan dan diolah oleh perempuan. Mungkin dengan membaca dan meneliti bahasa yang dihasilkan perempuan kita akan semakin memahami, menghargai sekaligus menghormati realitas sosial yang bernama “perempuan”.

*Ibn

Pukul 02.00 dini hari dengan dengan dentuman Ballerina 11/09/13