Senin, 22 Agustus 2011

Ramadhantainment dalam Banalitas TV

Setiap tahun selama bulan ramadhan selalu saja kita disuguhkan dengan acara-acara yang bernuansa Ramadhan. Hampir seluruh stasiun televisi pasti menayangkan beragam jenis acara dari berbagai dakwah islami yang menampilkan para Da’i kawakan, ringtone religi yang diperjualbelikan, suguhan kuliner untuk berbuka puasa, selain itu juga tak kalah musik-musik bergenre religi selalu tayang di layar kaca. Fenomena ini terus berulang dan bahkan semakin abadi saja dan akan selalu melekat pada saat ramadhan. 

Kian banal saja fenomena ini terjadi hanya saat ramadhan, namun tak bisa dipungkiri banalitas budaya pop ini berdampak juga pada nuansa ramadhan di masyarakat. Bayangkan saja jika tak ada situasi dan kondisi seperti ini ramadhan di Indonesia tidak akan begitu terasa apalagi jika kita hidup di negara yang mayoritas non Islam.

Merebaknya tayangan hiburan Ramadhan boleh jadi merupakan konsekuensi logis dari persaingan yang berlangsung diantara belasan televisi swasta kita. Dalam tulisannya berjudul ”Agama, Budaya Pop, dan Kapitalisme” Akhmad Muzakki mensitir kecenderungan bertemunya agama dan kebudayaan populer sebagai fenomena kemasan hiburan keagamaan alias religiotainment.

Ditopang oleh kekuatan media, religiotainment atau ramadhantainment pada dasarnya telah mengkonstruksi nilai-nilai spiritual yang indah menjadi produk industri. Media mengemas pelbagai kebutuhan masyarakat akan nilai itu dan menjadikannya sebagai sebuah komoditas yang laku diperdagangkan ke pasar. Ambillah sebuah contoh, ceramah-ceramah keagamaan di televisi jumlahnya meningkat tajam.

Dalam konteks tersebut, perlu dicermati bahwa religiotainment atau ramadhantainment sesungguhnya menyimpan kepentingan tiga belah pihak: media, pengiklan, dan aktor penyampai pesan keagamaan yang diwakili oleh artis populer maupun tokoh-tokoh spiritual. Dengan topangan media, publikisasi pesan-pesan keagamaan pada akhirnya berjalin berkelindan dengan komersialisasi. Kebutuhan khalayak terhadap kebutuhan spiritual di bulan suci menemukan dukungannya dari keterlibatan aktor-aktor budaya pop, baik itu artis sinetron dan film, penyanyi, bintang iklan, presenter, bahkan kyai sekalipun. 

Jika melihat pada pengalaman dari tahun ke tahun, siaran televisi yang –katakanlah– islami pada bulan Ramadhan akan segara lenyap selepas Ramadhan. Oleh karena itu, mengharapkan media melakukan penyampaian pesan-pesan spiritual secara terus-menerus di luar bulan Ramadhan boleh jadi mustahil.

Kemasan agama dalam tayangan di berbagai televisi kita selama bulan Ramadhan lebih banyak merupakan produk dari interaksi antara logika produsen dan masyarakat konsumen. Pada saat permintaan konsumen akan program acara bernuansa religius menampilkan derajat yang tinggi, pada saat itu pula produksi acara ramadhantainment menjadi pilihan media.

Jangan salah juga jika kian hari menjelang akhir ramadhan kita disibukkan dengan berbagai kebutuhan lebaran. Pasar mulai ramai dengan menawarkan berbagai barang keperluan lebaran, warung makan sudah tidak malu membuka pintunya saat siang hari, stasiun dan terminal mulai ramai dengan para pemudik yang tidak malu untuk makan dan minum di siang hari. Alhasil semakin luntur saja sakralitas keberagaamaan pada saat-saat ini. Ironis sekali, yang penting bisa menghasilkan uang agama pun bisa diperjualbelikan.

Barangkali manusia modern kini memang tengah dihinggapi semacam keterpesonaan kepada apa yang disebut Peter L. Berger, sebagai “ilusi-ilusi modernitas”. Mereka mengira bahwa dalam kemewahan dan bentuk tayangan religi yang dibungkus dengan kesalehan simbolik itu mereka akan berjumpa dengan Tuhan mereka di mal atau hotel berbintang dengan perut kenyang, sementara di sekeliling mereka terdapat orang-orang kelaparan.
 
Barangkali juga benar bahwa praktik pemujaan gaya hidup yang berjubah kesalehan simbolik tersebutlah yang telah melahirkan generasi baru kelas menengah muslim khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya sebagai generasi pemuja dan penikmat spiritualitas untuk bersenang-senang. 

Akhirnya, agama hanya dijadikan pengalihan kebiasaan dari “hedonisme sekular” ke “hedonisme spiritual”. Inilah manifestasi dari pergeseran kesedaran keberagamaan manusia moderen yang dipentaskan di panggung kebudayaan populer dalam bentuk simbol-simbol kesalehan.
 
Ah memang ini sudah zamannya..