Baru- baru
ini
terdapat perbincangan menarik mengenai fenomena
sok nginggris yang
menjadi bahan olok-olokan banyak orang. Pembicaraan ini melibatkan pedangdut
Zaskia Gotik yang kena tipu oleh pasangan prianya bernama Vicky Prasetyo. Tapi dalam
tulisan kali ini saya tidak akan membicarakan masalah “kontroversi dan
konspirasi kemakmuran” yang telah dibuat olehnya. Sedikit berlainan memang dengan
pembahasan yang sedang ramai ini.
Saya sangat kecewa melihat perlakuan seorang Vicky terhadap
perempuan. Bagaimana tidak, seorang laki-laki seharusnya bisa menjadi imam bagi
pasangan perempuannya. Tapi yang terjadi adalah sebuah Modus alias Modal Dusta
yang dilakukan olehnya. Dalam tulisan ini saya tidak mau menggunjingnya lebih
jauh tetapi saya ingin mengatakan sekaligus mengagumi sosok seorang perempuan,
terlebih Ibu saya, almarhum adik perempuan saya dan juga seorang perempuan yang
selalu memberikan rindu pada saya.
Belum lama kasus ini mencuat, saya sempat menemukan sebuah
buku mengenai perempuan. Buku itu berjudul Bahasa Perempuan, Sebuah Potret
Ideologi dan Perjuangan. Saya sangat tertarik, mungkin saja saya bisa memahami
perempuan yang saya rindu melalui buku ini. Ternyata buku ini bukanlah cara
bagaimana kita bisa mendapatkan cinta seorang perempuan. Tetapi yang ditekankan
pada tulisan ini adalah bagaimana kita bisa menghargai seorang perempuan
melalui bahasa-bahasa yang dipergunakannya. Bisa dikatakan bahwa bahasa
perempuan dapat disikapi sebagai wacana.
Mengapa bahasa perempuan bisa dikatakan sebagai wacana?
Bahasa perempuan dapat mengatakan, menuliskan, atau membahasakan sebuah
peristiwa, pengalaman, pandangan dan kenyataan hidup tertentu. Bahasa perempuan
selalu bisa merepresentasikan model pandangan hidup tertentu. Bahasa perempuan
menjadi sebuah konstruksi dunia yang bulat dan utuh tentang ide hidup dan
kehidupan yang sudah ditafsirkan dan diolah olehnya.
Lalu apakah laki-laki dan perempuan berbahasa secara
berbeda? Di sini lah memang menjadi suatu kajian sosiolinguistik yang menarik. Ada
pendapat yang mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki berbahsa secara berbeda.
Sebaliknya ada juga yang berpendapat tidak menyetujui hal itu. Namun secara
meluas pendapat pendapat pertama diterima bahwa perempuan dan laki-laki
berbicara secara berbeda. Perempuan lebih sering menggunakan gaya tutur
kooperatif, sebaliknya laki-laki cenderung menggunakan gaya tutur kompetitif. Laki-laki dan perempuan masih dipisahkan dalam dikotomi
privat versus publik. Dikotomi di sini adalah dikotomi produksi versus
reproduksi dan selanjutnya hasil pemisahan itu muncul dalam perbedaan bahasa
juga penggunaannya. Perbedaan sikap juga menjadi dikotomi kepada tuturan
laki-laki dan perempuan.
Dalam bukunya J Coates, Women, Men, and Language dikatakan
bahwa penggunaan bahasa yang dibedakan secara gender berperan signifikan dalam
marginalisasi perempuan dalam pelbagai profesi, khususnya kemajuan dan
perkembangan karir. Dalam pembahasan ini juga dikemukakan bahwa perlu adanya
revisi karakteristik lembek strategi kooperatif wanita dalam tuturan dan
analisis cara di mana perempuan akan dinilai jika mereka menggunakan strategi
kompetitif dalam area publik mereka.
Dalam konteks Indonesia, pemahaman terhadap perempuan juga
mengalami hal serupa. Cara pandang dan cara pikir masih lebih didominasi oleh
cara laki-laki. Akibatnya, cara pandang yang terjadi masih belum komprehensif
yang menciptakan ketimpangan komunikasi antargender. Perempuan lebih banyak
memperoleh stigma yang tidak menguntungkan.
Stigma-stigma itu semakin mensubordinasi posisi perempuan di
hadapan laki-laki. Yang masih kurang dilakukan dalam memahami perempuan adalah
memahami perempuan dari teks-teks yang dihasilkannya. Jika kita setuju dengan
sebuah klaim bahwa “bahasa merupakan pedoman menuju realitas sosial”. Memahami
dan meneliti bahasa yang dihasilkan perempuan akan semakin memahami realitas
sosial yang bernama “perempuan”.
Bagaimana kaum perempuan menggunakan bahasa untuk
mengemukakan pendapatnya adalah ladang yang menarik bagi pemahaman terhadap
perempuan. Sebuah ungkapan bahwa “language reflects and creates our
perception of the world” menjadi landasan memahami bagaimana perempuan
melihat dunia agar terjadi perubahan perilaku pada pelbagai pihak dalam
memandang eksistensi perempuan.
Perjuangan Perempuan dan Kematian Simbol
Situasi dan kondisi zaman sekarang ini menjadikan masyarakat
berada dalam era konsumsi. Masyarakat yang ada sangat mendewakan konsumsi. Dalam
era ini menurut penulis adalah zaman yang sangat berat bagi perempuan.
Baudrillard mengatakan konsumsi adalah tindakan sistematis dalam memanipulasi
tanda, dan untuk menjadi objek konsumsi, objek harus mengandung atau bahkan
menjadi tanda. Maksudnya dalam mengkonsumsi objek tertentu otomatis kita juga
mengkonsumsi tanda yang sama, dan secara tidak sadar kita mirip atau bahkan
seragam dengan banyak orang yang berlomba-lomba mengkonsumsi tanda serupa.
Inilah yang dimaksud dengan kode mengontrol apa yang kita konsumsi.
Era ini menjadikan banyak manipulasi dalam segala hal yang
terkait dengan perempuan. Godaan merk, pencitraan, dan label begitu intensif dan ekstensif menyerang
perempuan. Bahkan sebuah produk berteknologi yang tampak “tidak ada apa-apanya”
dan bebas nilai dan kepentingan dicurigai
dapat “meninabobokan” perempuan. Kecanggihan mesin cuci, misalnya
dicurigai semakin memarginalkan perempuan. Para aktivis perempuan memandang
bahwa kelengkapan sarana dan prasarana dalam mesin cuci semakin membuat kerasan
perempuan untuk selalu berada di rumah. Perempuan secara bawah sadar semakin
terdomestikkan dan terpinggirkan dari wacana publik. Teknologi canggih telah
memenjarakan perempuan untuk tidak memberontak dan menerima begitu saja secara
sukarela.
Dalam Iklan, barang-barang kendaraan, tempat tidur, rokok,
mesin cuci, dan bahkan telepon genggam sering memanaatkan perempuan dengan
eksploitasi tertentu. Iklan itu sangat menumbuhkan dan memperkokoh kebiasaan
laki-laki dengan apa yang disebut dengan scopophilia., yakni kesenangan
melihat. Akibatnya berkembanglah cara pikir laki-laki yang “menganggap orang
lain sebagai objek, menundukkan mereka pada pandangan yang mengontrol. Hal yang
sama juga dapat ditemukan dalam musik, seperti pop, rock dan dangdut. Tidak
lengkap bila tidak ada penyanyi perempuan yang menjadi bahan “penglihatan”
laki-laki. Tak mengherankan jika dosen bahasa saya pernah mengatakan kalau
perempuan itu “komoditi”! Ah sudah terlalu banyak contohnya seperti para fans
girlband ternyata sebagian besar adalah laki-laki. Oleh karena itu,
perempuan begitu penting bagi kesenangan pandangan laki-laki.
Mengapa sebuah simbol menjadi mati? Simbol akan mati jika
ada upaya untuk memberikan kepada simbol itu tasiran yang sama sekali tetap,
terbatas dan tidak boleh berubah. Literalisme kesesuaian ketat-kaku
satu-lawan-satu antara simbol dan realitas , menghapuskan segala konotasi,
pesan tambahan, dan sugesti imajinatif yang selalu dipunyai oleh sebuah simbol
sejati. Simbolisme tidak dapat hidup dengan literalisme. Manusia tanpa
simbolisme tidak dapat sungguh-sungguh hidup. Jika sebuah simbol harus tetap
memiliki daya hidupnya, simbol itu harus senantiasa diselaraskan dan ditasirkan
kembali di dalam konteks yang baru.
Dalam konteks bahasa perempuan, simbol-simbol
pengarusutamaan gender akan tinggal menunggu aja atas dasar beberapa penyebab.
Pertama, apabila pemaknaannya hanya dilakukan oleh perempuan dan dimonopoli
oleh perempuan. Sementara lelaki hanya ditempatkan dalam posisi berseberangan,
bahkan musuh yang harus dikalahkan. Jika memang keadannya seperti ini, yang
terjadi adalah munculnya regime of truth dalam memaknai wacana public,
termasuk didalamnya wacana perempuan. Kedua, apabila perempuan tetap berpikir partikular,
meminta-minta perlindungan, kuota, jatah, keringan, tanpa mau menunjukkan
prestasi, kerja keras, dan kehebatan-kehabatan lainnya yang membuat laki-laki
mau mengakui secara objektif kelebihan perempuan itu. Ketiga, apabila peremuan
lebih menyukai mengibar-ngibarkan “bendera peremupuan”dalam setiap aksi atau
kegiatannya.
Kritikan Megawati Soekarno Putri kepada SBY yang mengatakan
bahwa presiden laki-laki selalu tidak pro perempuan karena tidak mengerti
harga-harga pasar yang terkait dengan kebutuhan dapur, justru malah
menjerumuskan posisi perempuan ke jurang subordinasi. Kritikan seperti ini
malah menunjukkan ketidakmampuan dan kecemburuan pengkritiknya. Dengan kritikan
ini menjadikan bumerang bagi perempuan tanpa bisa mengedepankan sisi objektif
tanpa membedakan dikotomi jenis kelamin.
Dengan demikian, pemahamaman terhadap bahasa perempuan akan
memperoleh maknanya ketika ditransformasikan ke dalam wacana perempuan. Wacana
dalam hal ini dimaknai tidak sesempit dalam terminologi linguistik. Tetapi dimanai
secra lebih luas, yakni kumpulan pernyataan yang menyediakan sebuah bahasa
untuk berbicara tentang sebuah topik khusus pada peristiwa historis yang khusus
pula.
Jadi, bahasa perempuan pada hakikatnya adalah sebuah wacana
sebagai sistem representasi, yakni cara mengatakan, cara, menuliskan, atau
membahasakan peristiwa, pengalaman, pandangan, dan kenyataan hidup tertentu.
Bahasa perempuan selalu merepresentasikan model pandangan hidup tertentu, yakni
gambaran sebuah konstruksi dunia yang bulat dan utuh tentang ide hidup dan
kehidupan yang sudah ditasirkan dan diolah oleh perempuan. Mungkin dengan membaca dan meneliti bahasa yang dihasilkan perempuan kita akan semakin memahami,
menghargai sekaligus menghormati realitas sosial yang bernama “perempuan”.
*Ibn
Pukul 02.00 dini hari dengan dengan dentuman Ballerina 11/09/13