Kawah Ijen
merupakan salah satu mahakarya ciptaan Tuhan yang sangat unik. Bagaimana tidak,
kawah ijen menjadi magnet bagi para wisatawan sekaligus para penambang belerang
untuk mencari penghidupan. Pegunungan
Ijen dengan luas 134 km persegi memiliki tiga puncak utama: Raung,
Merapi, dan Kawah Ijen. Nama Ijen (2400 m dpl) mulai mendunia setelah
kedatangan dua turis asal Perancis, Nicolas Hulot dan istrinya, Katia Kraft,
pada 1971. dan menuliskan kisah mereka di majalah Geo, Perancis. Keelokan Ijen
ditambah kerasnya kehidupan para penambang belerang tradisional di sana menjadi
daya tarik utama wisatawan dan fotografer dunia.
Pusat penambangan belerang terbesar di
Indonesia ini memang memukau. Di tengah kawah nampak danau berwarna kehijauan,
Kawah ijen mampu menampung air hujan hingga 200 meter kubik. Danau hijau ini
dikelilingi oleh pabrik belerang hidup yang terus terbentuk meskipun
sudah puluhan tahun ditambang.
Banyuwangi memang menampilkan sisi eksotisnya
untuk dinikmati oleh para penjelajah. Banyuwangi adalah salah satu dari seribu
legenda Pegunungan Ijen di ujung timur Pulau Jawa ini. Di daerah pegunungan ini
juga mempunyai legenda Banyupahit, Kawah Wurung, atau kisah menak seperti
Dhamarwulan. Tanah bergunung-gunung yang nyaris tak tersentuh terisolasi, dan
bernuansa gelap ini banyak melahirkan aneka dongeng dan kisah magis.
Dulu, Pegunungan Ijen adalah bagian dari Negeri
Blambangan. Nama Blambangan mencuat dalam sejarah tatkala rajanya, Menak
Jinggo menolak mengakui kekuasaan Majapahit. Perang antara Blambangan dan
Majapahit lalu melahirkan kisah Menak pada abad ke-14. Kisah yang menceritakan
perjuangan Dhamarwulan, pemuda dari rakyat biasa yang menjadi tukang arit tapi
mampu membunuh musuh kerajaan, Menak Jinggo. Dia lalu menikahi Ratu Majapahit,
Dewi Kencono Wungu, dan menjadi raja.
Nama Ijen juga disebut-sebut tatkala seorang
pangeran dari Kerajaan Wilis, bergerilya melawan VOC dari balik lereng
pegunungan Ijen pada tahun 1722. Meski akhirnya kalah, kisah ini
membuktikan Ijen sebagai tempat persembunyian yang ideal bagi para pemberontak.
Tanahnya yang bergunung-gunung dan dipenuhi hutan lebat, sungguh menakutkan
bagi orang luar. Kesan angker begitu melekat di wilayah tak bertuan ini.
Alam Ijen mulai tersentuh ketika Belanda mulai
menyewakan tanah yang amat luas di daerah Besuki, Panarukan, Probolinggo dan
sekitarnya kepada saudagar dan kapten penduduk Cina di Surabaya yang kaya raya,
Han Chan Pit dan saudaranya, Han Ki Ko. Untuk menarik minat pekerja, mereka
membagi-bagikan beras gratis saat ada kelaparan. Dalam waktu singkat, datanglah
40 ribu pekerja asal Madura. Mereka membuka lahan, bertanam padi dan sayuran,
menggunakan sistem irigasi yang teratur. Namun meletusnya pemberontakan para
petani yang dipimpin Kiai Mas pada 1813 membuat tanah sewaan ini dibeli kembali
oleh Rafles.
Pelaksanaan politik cultursteelsel oleh
Belanda di akhir abad ke-19 memaksa pembukaan kembali lahan-lahan terpencil
ini. Pegunungan Ijen pun dijadikan perkebunan kopi dan karet. Belanda kembali
mendatangkan ribuan pekerja asal Madura pada saat itu. Sampai sekarang masih
terdapat ‘Madura kecil’ yang menjadi pusat pemukiman orang Madura beserta adat,
budaya, dan bahasanya. Madura kecil kini masih bisa kita jumpai di sebagian
Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Sumber
Penghidupan
SR Wittiri dan
Sri Sumarti dalam artikel ”Kawah Ijen, Penghasil Belerang Terbesar” di Warta
Geologi Volume III Nomor 4 Tahun 2008 menuliskan, Gunung Ijen
berasal dari gunung api sangat besar yang tercabik-cabik akibat letusan besar
dalam tiga periode sejak 3.500 tahun silam. Letusan itu menghasilkan lubang
besar di bagian atas yang berukuran 22 kilometer x 25 kilometer. Lubang itu
dikenal sebagai Kaldera Ijen. Di tengah kaldera terdapat kawah yang menjadi
pusat aktivitas vulkanik Gunung Ijen. Bibir kawah berukuran 1.600 meter x 1.160
meter, sedangkan permukaan air danau berukuran 960 meter x 600 meter.
Kadar keasaman
air kawah Ijen sangat tinggi, antara nol (tidak terukur) dan 0,8. Sebagai
perbandingan, derajat keasaman air aki 2-3. Adapun air layak sentuh minimal 5
dan air layak minum 6-7. Dalam Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Ijen
disebutkan, air kawah bersumber dari siklus hidrologi, mulai dari air hujan,
air permukaan, hingga air bawah tanah.
Meskipun hidup
berkawan dengan bahaya, masyarakat ijen banyak yang menggantungkan hidupnya
sebagai penambang belerang. Ketika
semburan belerang mencapai puncaknya, yaitu menjelang tengah hari, sebagian
danau akan tertutup kabut kuning yang kaya akan asam klorida dan asam sulfat
yang membahayakan. Namun para penambang tak mempedulikannya. Berbekal sepatu
karet hingga selutut, kaos panjang, dan kain penutup wajah, mereka terus
bekerja sejak matahari terbit hingga menjelang petang.
Pundak berpunuk yang keras dan menghitam menjadi
saksi betapa keras pekerjaan mereka. Belum lagi risiko gigi keropos, penyakit
sesak nafas dan paru-paru yang kerap menyerang, akibat terus-menerus menghirup
udara bercampur belerang. Hidup di daerah bencana tak membuat
masyarakat di sini ketakutan namun mereka hidup harmonis dengan ancaman
bencana.
Pegunungan ijen memang
memberikan sisi ironi dan eksotisnya. Untuk mengeksplor kawasan Kawah Ijen
dibutuhkan stamina yang kuat dan sehat, karena semua lokasi kebanyakan ditempuh
dengan berjalan kaki. Bagi mereka yang ingin mendaki Kawah Ijen, akses jalan
bisa ditempuh dalam 3km dari Paltuding. Paltuding merupakan area pemberhentian
sebelum manaiki wilayah Ijen. Di Paltuding, terdapat camping ground, asrama dan
kantor penerangan taman nasional, di mana para pendaki bisa mendapatkan info
lengkap seputar keselamatan sebelum mendaki kawah.
Jalan di
sekitar kawah sangatlah curam dan menanjak, dengan melewati tepian hutan yang
dapat dengan mudah diikuti. Perjalanan ini dapat ditempuh sekitar 90 menit.
Para pengunjung bisa berjalan di sepanjang bagian atas kawah, atau turun ke
tepi danau yang sempit yang biasa dilalui para penambang saat mengambil
belerang. Untuk menuju Kawah Ijen bisa ditempuh melalui 2 jalur yaitu, barat
dan timur. Para pendaki lebih banyak memilih jalur barat, karena terbilang
mudah dan hanya memerlukan waktu 1,5 jam dari ujung jalan menuju tepi danau.
Tak hanya Kawah
Ijen, banyak obyek wisata alam yang mempesona di kawasan ini. Ada Kali
Banyupahit dan kawasan hutannya yang kerap dijadikan anak-anak muda ajang
perkemahan. Air sungai yang berasal dari Danau Hijau, Kawah Ijen itu, dipercaya
penduduk bisa menjadi obat berbagai penyakit. Ada lagi Kawah Wurung, kawah
menghijau di lereng utara, 8 km dari Kawah Ijen. Juga wisata agro seperti
menikmati kebun kopi, cengkeh, coklat, dan bunga-bungaan di Jampit, 13 km
dari Sempol. Kalau ingin bermalam, pengunjung bisa tidur di penginapan bawah
tanah yang berasal dari jaman Belanda.
Hidup
berdampingan dengan bencana memang menjadi suatu tantangan dalam kehidupan.
Memaknai setiap mahakarya Tuhan memberikan suatu pelajaran bahwa manusia harus
selalu bersyukur dan berusaha hidup harmonis dengan alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar