Rabu, 23 Oktober 2013

Kawah Penghidupan dan Ancaman


Kawah Ijen merupakan salah satu mahakarya ciptaan Tuhan yang sangat unik. Bagaimana tidak, kawah ijen menjadi magnet bagi para wisatawan sekaligus para penambang belerang untuk mencari penghidupan. Pegunungan Ijen dengan luas 134 km persegi memiliki tiga puncak utama:  Raung, Merapi, dan Kawah Ijen. Nama Ijen (2400 m dpl) mulai mendunia setelah kedatangan dua turis asal Perancis, Nicolas Hulot dan istrinya, Katia Kraft, pada 1971. dan menuliskan kisah mereka di majalah Geo, Perancis. Keelokan Ijen ditambah kerasnya kehidupan para penambang belerang tradisional di sana menjadi daya tarik utama wisatawan dan fotografer dunia.


Pusat penambangan belerang terbesar di Indonesia ini memang memukau. Di tengah kawah nampak danau berwarna kehijauan, Kawah ijen mampu menampung air hujan hingga 200 meter kubik. Danau hijau ini dikelilingi oleh pabrik belerang hidup yang terus terbentuk meskipun  sudah puluhan tahun ditambang.


Banyuwangi memang menampilkan sisi eksotisnya untuk dinikmati oleh para penjelajah. Banyuwangi adalah salah satu dari seribu legenda Pegunungan Ijen di ujung timur Pulau Jawa ini. Di daerah pegunungan ini juga mempunyai legenda Banyupahit, Kawah Wurung, atau kisah menak seperti Dhamarwulan. Tanah bergunung-gunung yang nyaris tak tersentuh terisolasi, dan bernuansa gelap ini banyak melahirkan aneka dongeng dan kisah magis.
 



Dulu, Pegunungan Ijen adalah bagian dari Negeri Blambangan. Nama Blambangan mencuat dalam sejarah tatkala rajanya, Menak  Jinggo menolak mengakui kekuasaan Majapahit. Perang antara Blambangan dan Majapahit lalu melahirkan kisah Menak pada abad ke-14. Kisah yang menceritakan perjuangan Dhamarwulan, pemuda dari rakyat biasa yang menjadi tukang arit tapi mampu membunuh musuh kerajaan, Menak Jinggo. Dia lalu menikahi Ratu Majapahit, Dewi Kencono Wungu, dan menjadi raja.

Nama Ijen juga disebut-sebut tatkala seorang pangeran dari Kerajaan Wilis, bergerilya melawan VOC dari balik lereng pegunungan Ijen pada tahun 1722.  Meski akhirnya kalah, kisah  ini membuktikan Ijen sebagai tempat persembunyian yang ideal bagi para pemberontak. Tanahnya yang bergunung-gunung dan dipenuhi hutan lebat, sungguh menakutkan bagi orang luar. Kesan angker begitu melekat di wilayah tak bertuan ini.

Alam Ijen mulai tersentuh ketika Belanda mulai menyewakan tanah yang amat luas di daerah Besuki, Panarukan, Probolinggo dan sekitarnya kepada saudagar dan kapten penduduk Cina di Surabaya yang kaya raya, Han Chan Pit dan saudaranya, Han Ki Ko. Untuk menarik minat pekerja, mereka membagi-bagikan beras gratis saat ada kelaparan. Dalam waktu singkat, datanglah 40 ribu pekerja asal Madura. Mereka membuka lahan, bertanam padi dan sayuran, menggunakan sistem irigasi yang teratur. Namun meletusnya pemberontakan para petani yang dipimpin Kiai Mas pada 1813 membuat tanah sewaan ini dibeli kembali oleh Rafles.

Pelaksanaan politik cultursteelsel oleh Belanda di akhir abad ke-19 memaksa pembukaan kembali lahan-lahan terpencil ini. Pegunungan Ijen pun dijadikan perkebunan kopi dan karet. Belanda kembali mendatangkan ribuan pekerja asal Madura pada saat itu. Sampai sekarang masih terdapat ‘Madura kecil’ yang menjadi pusat pemukiman orang Madura beserta adat, budaya, dan bahasanya. Madura kecil kini masih bisa kita jumpai di sebagian Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Sumber Penghidupan



SR Wittiri dan Sri Sumarti dalam artikel ”Kawah Ijen, Penghasil Belerang Terbesar” di Warta Geologi Volume III Nomor 4 Tahun 2008 menuliskan, Gunung Ijen berasal dari gunung api sangat besar yang tercabik-cabik akibat letusan besar dalam tiga periode sejak 3.500 tahun silam. Letusan itu menghasilkan lubang besar di bagian atas yang berukuran 22 kilometer x 25 kilometer. Lubang itu dikenal sebagai Kaldera Ijen. Di tengah kaldera terdapat kawah yang menjadi pusat aktivitas vulkanik Gunung Ijen. Bibir kawah berukuran 1.600 meter x 1.160 meter, sedangkan permukaan air danau berukuran 960 meter x 600 meter.

Kadar keasaman air kawah Ijen sangat tinggi, antara nol (tidak terukur) dan 0,8. Sebagai perbandingan, derajat keasaman air aki 2-3. Adapun air layak sentuh minimal 5 dan air layak minum 6-7. Dalam Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Ijen disebutkan, air kawah bersumber dari siklus hidrologi, mulai dari air hujan, air permukaan, hingga air bawah tanah. 

Meskipun hidup berkawan dengan bahaya, masyarakat ijen banyak yang menggantungkan hidupnya sebagai penambang belerang. Ketika semburan belerang mencapai puncaknya, yaitu menjelang tengah hari, sebagian danau akan tertutup kabut kuning yang kaya akan asam klorida dan asam sulfat yang membahayakan. Namun para penambang tak mempedulikannya. Berbekal sepatu karet hingga selutut, kaos panjang, dan kain penutup wajah, mereka terus bekerja sejak matahari terbit hingga menjelang petang.

Pundak berpunuk yang keras dan menghitam menjadi saksi betapa keras pekerjaan mereka. Belum lagi risiko gigi keropos, penyakit sesak nafas dan paru-paru yang kerap menyerang, akibat terus-menerus menghirup udara bercampur belerang. Hidup di daerah bencana tak membuat masyarakat di sini ketakutan namun mereka hidup harmonis dengan ancaman bencana.

Pegunungan ijen memang memberikan sisi ironi dan eksotisnya. Untuk mengeksplor kawasan Kawah Ijen dibutuhkan stamina yang kuat dan sehat, karena semua lokasi kebanyakan ditempuh dengan berjalan kaki. Bagi mereka yang ingin mendaki Kawah Ijen, akses jalan bisa ditempuh dalam 3km dari Paltuding. Paltuding merupakan area pemberhentian sebelum manaiki wilayah Ijen. Di Paltuding, terdapat camping ground, asrama dan kantor penerangan taman nasional, di mana para pendaki bisa mendapatkan info lengkap seputar keselamatan sebelum mendaki kawah. 


Jalan di sekitar kawah sangatlah curam dan menanjak, dengan melewati tepian hutan yang dapat dengan mudah diikuti. Perjalanan ini dapat ditempuh sekitar 90 menit. Para pengunjung bisa berjalan di sepanjang bagian atas kawah, atau turun ke tepi danau yang sempit yang biasa dilalui para penambang saat mengambil belerang. Untuk menuju Kawah Ijen bisa ditempuh melalui 2 jalur yaitu, barat dan timur. Para pendaki lebih banyak memilih jalur barat, karena terbilang mudah dan hanya memerlukan waktu 1,5 jam dari ujung jalan menuju tepi danau. 


Tak hanya Kawah Ijen, banyak obyek wisata alam yang mempesona di kawasan ini. Ada Kali Banyupahit dan kawasan hutannya yang kerap dijadikan anak-anak muda ajang perkemahan. Air sungai yang berasal dari Danau Hijau, Kawah Ijen itu, dipercaya penduduk bisa menjadi obat berbagai penyakit. Ada lagi Kawah Wurung, kawah menghijau di lereng utara, 8 km dari Kawah Ijen. Juga wisata agro seperti menikmati kebun kopi, cengkeh, coklat, dan bunga-bungaan di  Jampit, 13 km dari Sempol. Kalau ingin bermalam, pengunjung bisa tidur di penginapan bawah tanah yang berasal dari jaman Belanda. 

Hidup berdampingan dengan bencana memang menjadi suatu tantangan dalam kehidupan. Memaknai setiap mahakarya Tuhan memberikan suatu pelajaran bahwa manusia harus selalu bersyukur dan berusaha hidup harmonis dengan alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar