Sebelumnya aku pernah mendambakan riang tawamu dan seringaimu
yang penuh tanya. Pada sebuah hari di
ketinggian tiga ribu kaki berselimut siluet matahari. Pada senja dan terbitnya
matahari pagi aku senantiasa membaca kembali tiap bait puisi yang tertulis di
sebuah kitab.
Panjang pendek harakat harus betul aku ucapkan agar arti
yang keluar tidak tercemar. Kata-kata itu memang sudah tua dan selalu
bersemayam di dalam kamar. Meskipun begitu kata-kata itu selalu tersemat
bersama salawat-salawat. Rindu yang menekuk lutut di sudut luka kini
bergelantung di pintu. Aku memberikannya lampu untuk setiap masa lalu. Jangan sampai
kenangan itu tersangkut di sarang laba-laba.
Rasulullah pun bersabda bahwa hari yang paling afdal adalah
hari Jumat. Dan hari ini kata-kata itu begitu menyala demikian dekat dan makin
terang bersama kepergian yang membekas di jendela. Kata-kata itu masih ada di
atas kasur dan pada sisa napas di pinggir bantal. Dalam doa dan salawat semoga
kamu yang telah mencipta kata-kata itu selalu sehat wal afiat…
Ibn, 05/10/13
Infinity
Infinity
Tidak ada komentar:
Posting Komentar