Sabtu, 05 Oktober 2013

Sepotong Jum’at



Sebelumnya aku pernah mendambakan riang tawamu dan seringaimu yang penuh tanya. Pada sebuah hari  di ketinggian tiga ribu kaki berselimut siluet matahari. Pada senja dan terbitnya matahari pagi aku senantiasa membaca kembali tiap bait puisi yang tertulis di sebuah kitab.

Panjang pendek harakat harus betul aku ucapkan agar arti yang keluar tidak tercemar. Kata-kata itu memang sudah tua dan selalu bersemayam di dalam kamar. Meskipun begitu kata-kata itu selalu tersemat bersama salawat-salawat. Rindu yang menekuk lutut di sudut luka kini bergelantung di pintu. Aku memberikannya lampu untuk setiap masa lalu. Jangan sampai kenangan itu tersangkut di sarang laba-laba.

Rasulullah pun bersabda bahwa hari yang paling afdal adalah hari Jumat. Dan hari ini kata-kata itu begitu menyala demikian dekat dan makin terang bersama kepergian yang membekas di jendela. Kata-kata itu masih ada di atas kasur dan pada sisa napas di pinggir bantal. Dalam doa dan salawat semoga kamu yang telah mencipta kata-kata itu selalu sehat wal afiat…

Ibn, 05/10/13
Infinity

Tidak ada komentar:

Posting Komentar