Selasa, 27 September 2011

Berbhineka dan Ber-Indonesia demi Perdamaian

Kembali lagi kita dikejutkan dengan aksi teror bom di gereja Bethel Injil Sepenuh di Solo pada (25/9). Peristiwa tersebut mengingatkan kita pada rangkaian peristiwa pemboman sebelumnya di Masjid Mapolresta Cirebon. Kala itu pelaku bom bunuh diri menggegerkan jama’ah saat sedang melaksanakan salat jumat. Jika dikaitkan dengan aksi terror ini, apakah pemerintah atau lebih tepatnya aparat penegak hukum kecolongan atas peritiwa tersebut? Lalu apakah pemerintah dapat menanggulangi dengan berkaca pada sejarah masa lalu dimana rangkaian teror kerap terjadi tiap tahunnya? 

Melihat setiap aksi teror yang terjadi, kerap kali motif itu didasari atas nama agama. Apakah agama menjadi suatu sandaran untuk melakukan tindakan teror? barangkali inilah hal yang perlu dikaji ulang, karena pada hakikatnya semua agama mengajarkan kebaikan untuk menselaraskan kehidupan manusia dengan alamnya.
Menyikapi aksi teror, dalam buku Memahami Negativitas, kuasa teroristis bangkit lewat technology of fear, dramatisasi kematian. Para teroris bekerja penuh rahasia di belakang ruang publik untuk menghasilkan efek di dalam ruang publik itu sendiri. Mayat-mayat hanyalah figur dalam sebuah teater kematian, bukanlah tujuan teror. Sasaran mereka adalah manusia-manusia yang diharapkan menjadi penonton mereka (teroris). Membunuh satu orang namun membuat seribu orang ketakutan, bahkan jutaan.
Kita adalah objek teror dari para teroris. Teror menghasilkan massa, karena menyeragamkan manusia dalam satu kerangka berpikir yang sama. segala perbedaan diantara aku, kamu bahkan kalian menguap di bawah cengkeraman rasa takut yang sama. 
Jika dipahami, teroris adalah manusia nihilistis. Tak ada heroisme yang lebih membanggakan dan memuliakan manusia nihilis yang mengalami defisit nilai-nilai dalam jiwanya selain dari pada menghabisi nyawa manusia lain atas nilai-nilai luhur, entah itu hak asasi manusia ataupun nilai-nilai agama. Jika penulis mengasumsikan dan mempertanyakan kembali serangkain aksi teror, apakah ini semacam gerakan melawan penzaliman atas negara-negara islam di dunia ataukah ada yang lain?
Menyibak tabir aksi teror bom yang kerap terjadi maka diperlukan penanggulangan secara preventif dari aparatur negara dalam mencegah aksi teror itu sebelum memakan korban jiwa yang lebih banyak lagi. Karena aksi teror ini menimbulkan dampak traumatik, bangsa kita perlu belajar kembali memahami masa silam, yaitu melawan kelupaan dan penglupaan sejarah. 
Aksi teror ini bukanlah persoalan agama semata, pemerintah sebagai pemegang kuasa penuh atas negara perlu mengadakan pendekatan dialogis secara kontinu dan memutus mata rantai kekerasan pada masyarakat khususnya ormas-ormas yang disinyalir kuat melakukan gerakan kearah radikalisme.
Meminjam catatan Ahmad Wahib penulis ingin mengatakan, “bagi kita, Teis dan Ateis bisa berkumpul. Muslim dan Kristiani bisa bercanda. Artis dan atlit bisa bergurau. Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan, tapi pluralis dan anti pluralis tak bisa bertemu”. dengan menanamkan semangat ke-bhinekaan dan ke-Indonesiaan serta memahami agama secara penuh pada tiap individu niscaya intoleransi dapat terhindar. konflik-konflik ataupun teror yang kerap kali mengatasnamakan agama tak akan terjadi. Oleh karena itu, marilah kita menebar toleransi dalam semangat persatuan agar terwujud Indonesia yang cinta damai.

Senin, 22 Agustus 2011

Ramadhantainment dalam Banalitas TV

Setiap tahun selama bulan ramadhan selalu saja kita disuguhkan dengan acara-acara yang bernuansa Ramadhan. Hampir seluruh stasiun televisi pasti menayangkan beragam jenis acara dari berbagai dakwah islami yang menampilkan para Da’i kawakan, ringtone religi yang diperjualbelikan, suguhan kuliner untuk berbuka puasa, selain itu juga tak kalah musik-musik bergenre religi selalu tayang di layar kaca. Fenomena ini terus berulang dan bahkan semakin abadi saja dan akan selalu melekat pada saat ramadhan. 

Kian banal saja fenomena ini terjadi hanya saat ramadhan, namun tak bisa dipungkiri banalitas budaya pop ini berdampak juga pada nuansa ramadhan di masyarakat. Bayangkan saja jika tak ada situasi dan kondisi seperti ini ramadhan di Indonesia tidak akan begitu terasa apalagi jika kita hidup di negara yang mayoritas non Islam.

Merebaknya tayangan hiburan Ramadhan boleh jadi merupakan konsekuensi logis dari persaingan yang berlangsung diantara belasan televisi swasta kita. Dalam tulisannya berjudul ”Agama, Budaya Pop, dan Kapitalisme” Akhmad Muzakki mensitir kecenderungan bertemunya agama dan kebudayaan populer sebagai fenomena kemasan hiburan keagamaan alias religiotainment.

Ditopang oleh kekuatan media, religiotainment atau ramadhantainment pada dasarnya telah mengkonstruksi nilai-nilai spiritual yang indah menjadi produk industri. Media mengemas pelbagai kebutuhan masyarakat akan nilai itu dan menjadikannya sebagai sebuah komoditas yang laku diperdagangkan ke pasar. Ambillah sebuah contoh, ceramah-ceramah keagamaan di televisi jumlahnya meningkat tajam.

Dalam konteks tersebut, perlu dicermati bahwa religiotainment atau ramadhantainment sesungguhnya menyimpan kepentingan tiga belah pihak: media, pengiklan, dan aktor penyampai pesan keagamaan yang diwakili oleh artis populer maupun tokoh-tokoh spiritual. Dengan topangan media, publikisasi pesan-pesan keagamaan pada akhirnya berjalin berkelindan dengan komersialisasi. Kebutuhan khalayak terhadap kebutuhan spiritual di bulan suci menemukan dukungannya dari keterlibatan aktor-aktor budaya pop, baik itu artis sinetron dan film, penyanyi, bintang iklan, presenter, bahkan kyai sekalipun. 

Jika melihat pada pengalaman dari tahun ke tahun, siaran televisi yang –katakanlah– islami pada bulan Ramadhan akan segara lenyap selepas Ramadhan. Oleh karena itu, mengharapkan media melakukan penyampaian pesan-pesan spiritual secara terus-menerus di luar bulan Ramadhan boleh jadi mustahil.

Kemasan agama dalam tayangan di berbagai televisi kita selama bulan Ramadhan lebih banyak merupakan produk dari interaksi antara logika produsen dan masyarakat konsumen. Pada saat permintaan konsumen akan program acara bernuansa religius menampilkan derajat yang tinggi, pada saat itu pula produksi acara ramadhantainment menjadi pilihan media.

Jangan salah juga jika kian hari menjelang akhir ramadhan kita disibukkan dengan berbagai kebutuhan lebaran. Pasar mulai ramai dengan menawarkan berbagai barang keperluan lebaran, warung makan sudah tidak malu membuka pintunya saat siang hari, stasiun dan terminal mulai ramai dengan para pemudik yang tidak malu untuk makan dan minum di siang hari. Alhasil semakin luntur saja sakralitas keberagaamaan pada saat-saat ini. Ironis sekali, yang penting bisa menghasilkan uang agama pun bisa diperjualbelikan.

Barangkali manusia modern kini memang tengah dihinggapi semacam keterpesonaan kepada apa yang disebut Peter L. Berger, sebagai “ilusi-ilusi modernitas”. Mereka mengira bahwa dalam kemewahan dan bentuk tayangan religi yang dibungkus dengan kesalehan simbolik itu mereka akan berjumpa dengan Tuhan mereka di mal atau hotel berbintang dengan perut kenyang, sementara di sekeliling mereka terdapat orang-orang kelaparan.
 
Barangkali juga benar bahwa praktik pemujaan gaya hidup yang berjubah kesalehan simbolik tersebutlah yang telah melahirkan generasi baru kelas menengah muslim khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya sebagai generasi pemuja dan penikmat spiritualitas untuk bersenang-senang. 

Akhirnya, agama hanya dijadikan pengalihan kebiasaan dari “hedonisme sekular” ke “hedonisme spiritual”. Inilah manifestasi dari pergeseran kesedaran keberagamaan manusia moderen yang dipentaskan di panggung kebudayaan populer dalam bentuk simbol-simbol kesalehan.
 
Ah memang ini sudah zamannya..

Selasa, 07 Juni 2011

Sesaat Kau Petik Dawai


Sesaat kau petik dawai sekan nada jiwamu kau bawa
Mengalun, berayun dalam partitur, gerak kord gitar di genggaman
Hati mengikuti harmoni lagu, dimana kord yang sulit digenggam itu?
Ada yang mesti disebut tapi luput dari ingatan kord-kord
tak lagi tergenggam seperti yang biasa dimainkan
dawai gitar jiwamu mengalun berayun dala partitur kord melantunkan
suka duka yang sudah biasa
ku harap karena kau sudah tersetem dengan baik rasakanlah resapilah
setiap nada-nada baru yang telah kord guratka padamu
nikmatilah tiap simponi bersamanya
bersama dalam setiap lantunan kehidupan

Dawai Gitar


Sambil terus memetik dalam lagu
Dawai gitar mnertawai si pemetik yang nestapa; sesekali
Melamun membayangkan kisah asmaranya dulu dengan si kenang
Agar tak terhapuskan oleh waktu
Si pemetik menghentikan permainannya
Dawai-dawai telah tersetem dengan baik
Dalam sisa lamunan, dawai gitar seperti
Mendengar rintihan kenang yang lara
Tak tahan, hati seperti disayat sembilu, dawai
Membiarkan dirinya melenting dari tambatan gitar

Aku Mega

Aku Mega

Aku sang Mega yang tak pernah bisa berlama-lama menemanimu
jiwaku berkelana bersama Surya dan Purnama
Diriku bisa saja berubah menjadi malam tanpa kehangatan
lalu kau akan melupakanku dengan berbagai macam pergulatan
kau tidak bisa melihat pekatku
atau sedikit saja menikmati kesejukanku dengan semilir desahku
yang mengelus tengkukmu
terus saja kau pecundangi Aku dengan pergulatanmu
walau kusajikan kerjap Bintang dan kilau Purnama
maupun rintikan hujan
kau begitu saja terlelap melupakanku
begitu ku menjadi pagi kau masih saja tak peduli
kuberi kau kehangatan namun masih saja
kau terhenyak dalam mimpi-mimpi..

Gadis Pemetik Gitar


Dipetiknya luka riwayat
Yang tersayat dawai waktu
Nyeri jemari merambat
Ke pembuluh saraf
Kerjap lampu merkuri
Merupa langkah pria sepanjang jalan
gejolak binal tersingkap
dibalik relung-relung nestapa
dihirupnya, diresapinya, dirasanya
suara malam menjadi butir syair pilu
guratan nada kian membuncah
larungkan jiwa ke harmoni sunyi
nyeri terus merambat
ke saraf-saraf dengan perih di ulu hati
tak ada kawan tak ada lawan tak ada kasih
hanya nada untai harmoni