Jumat, 13 April 2012

Dikte


Ada suatu hal menarik perhatian bila kita melihat fenomena di kampus ini beberapa waktu lalu. Civitas akademika kembali mengadakan pesta demokrasi, memilih dan dipilih. Tapi tunggu dulu, apakah ini disebut sebagai pesta? Pesta menjadi boneka ataukah menjadi mahasiswa seutuhnya yang memiliki otoritas penuh  dalam mengembangkan karakter dirinya melalui lembaga kemahasiswaan.

Entah disebut pemira atau pemilu, ada pula yang mengatakan kalau fenomena ini seperti pemilihan Osis saja. Namun yang pasti terdapat suatu kejanggalan dalam prosesi ini, mulai dari persiapannya, sosialisasinya, prosesi pemilihannya bahkan agak mengejutkan ketika seorang teman menuturkan kepada saya “gw nggak tahu nih tahu-tahu di suruh cepat-cepat membentuk struktur kepanitiaan pemilu, tanpa dasar yang jelas pokoknya harus segera terbentuk atau perkuliahan kamu akan dipersulit,”  seperti itulah penuturannya. 

Saya menggagap itu sebuah ancaman atau hanya bualan sang penguasa otonom untuk menakut-nakuti rakyatnya dalam menentukan kebijakan dari sang penguasa tertinggi. Seperti sebuah lakon intervensi yang tak jauh berbeda dengan rezim otoritarian yang selalu melakukan penindasan tanpa melakukan pertimbangan dengan rakyatnya. Tapi tak perlu terlalu jauh menafsirkan, menurut saya kasus ini adalah bentuk pendiktean ala elite kampus.

Sebuah bentuk pembelajaran yang kembali terulang ketika kita mengenyam pendidikan bangku kuliah. Saat mengenyam pendidikan dasar, sebuah kewajaran ketika seorang guru mendikte muridnya agar si murid benar-benar mengerti apa yang sang guru tuturkan. Secara arti, dikte menurut KBBI adalah yang diucapkan atau dibaca keras-keras supaya ditulis orang lain. Men-dikte, menyuruh orang menulis apa yang dibacakan atau dikatakan;  menyuruh berbuat dan menurut saja seperti yang dikatakannya (dengan tidak boleh membantah).

Mendikte bisa jadi hal yang berguna agar seseorang dapat menulis perkataan penutur dengan mudah dan tepat baik titik, koma maupun tanda baca lainnya agar tidak terjadi kekeliruan. Namun mendikte dalam hal ini sangat keliru. Suatu bentuk pendidikan yang pada hakikatnya tidak mendidik sama sekali. Pada akhirnya nilai kritis yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa dalam mengambil langkah untuk mengembangkan dirinya sirna tertelan oleh otoritas sang pendikte. Tanpa bisa mengkritisi, berkompromi bahkan bisa meraih mufakat sebagai sebuah proses pendewasaan kepemimpinan ketika menampuk pemerintahan.

Tak ada bedanya dengan masa otoritarian yang diciptakan oleh para diktator atau pendikte. Ciri yang kentara bahwa otoritarian terjadi di kampus ini  adalah selalu saja salah ketika beberapa tahun lalu pemira dilaksanakan. Salah satu indikasi ciri dari sang pendikte akan membatasi pekerjaan seseorang, yaitu agar orang tersebut bekerja menurut prosedur dan aturan yang ada. Jika orang itu tidak mengerti dan tidak menjalankan tugasnya dengan baik, ia akan dianggap salah. Selalu saja salah, akhir yang terjadi, kesalahan-kesalah beruntun dari hal perencanaan, sosialisasi, prosesi dan hasil akhirnya pada pemira kali ini.

Selain itu dalam hal komunikasi sang pendikte dalam menjalankan tugasnya baik dalam menyampaikan gagasan, pemikiran, dan pesan, hanya mengenal satu bentuk komunikasi, yaitu instruksi. Istilah yang dikenalnya terbatas pada pengarahan, petunjuk, wejangan, perintah, pembinaan, sehingga bentuk komunikasi yang sifatnya sekadar memberitahu perkaranya (informatif) dianggap sudah mencukupi. Sang pendikte hanya mau melakukan komunikasi searah tanpa mengindahkan diskusi atau dialog yang menghasilkan sintesa dari semua kebijakan yang ada. 

Memang sebuah keniscayaan ketika pergulatan nilai kritis dan skeptisisme kembali dipertanyakan dan disandingkan dengan mahasiswa saat ini. “Sudahlah ini bukan zaman otoritarian  lagi mas, kita ini sudah mahasiswa, masih saja diatur dan kita nggak punya sikap”, satu teman ngopi saya menyeletuk.