Ada suatu
hal menarik perhatian bila kita melihat fenomena di kampus ini beberapa waktu lalu. Civitas akademika kembali mengadakan pesta demokrasi, memilih dan dipilih. Tapi tunggu dulu, apakah ini disebut sebagai pesta?
Pesta menjadi boneka ataukah menjadi mahasiswa seutuhnya yang memiliki otoritas
penuh dalam mengembangkan karakter
dirinya melalui lembaga kemahasiswaan.
Entah disebut pemira atau pemilu, ada pula yang
mengatakan kalau fenomena ini seperti pemilihan Osis saja. Namun yang pasti
terdapat suatu kejanggalan dalam prosesi ini, mulai dari persiapannya,
sosialisasinya, prosesi pemilihannya bahkan agak mengejutkan ketika seorang
teman menuturkan kepada saya “gw nggak tahu nih tahu-tahu di suruh cepat-cepat
membentuk struktur kepanitiaan pemilu, tanpa dasar yang jelas pokoknya harus
segera terbentuk atau perkuliahan kamu akan dipersulit,” seperti itulah penuturannya.
Saya menggagap itu sebuah ancaman atau hanya bualan sang
penguasa otonom untuk menakut-nakuti rakyatnya dalam menentukan kebijakan dari
sang penguasa tertinggi. Seperti sebuah
lakon intervensi yang tak jauh berbeda dengan rezim otoritarian yang selalu
melakukan penindasan tanpa melakukan pertimbangan dengan rakyatnya. Tapi tak perlu terlalu jauh menafsirkan,
menurut saya kasus ini adalah bentuk pendiktean ala elite kampus.
Sebuah bentuk pembelajaran yang kembali terulang ketika
kita mengenyam pendidikan bangku kuliah. Saat mengenyam pendidikan dasar,
sebuah kewajaran ketika seorang guru mendikte muridnya agar si murid
benar-benar mengerti apa yang sang guru tuturkan. Secara arti, dikte menurut
KBBI adalah yang diucapkan atau dibaca keras-keras supaya ditulis orang lain.
Men-dikte, menyuruh orang menulis apa yang dibacakan atau dikatakan; menyuruh berbuat dan menurut saja seperti
yang dikatakannya (dengan tidak boleh membantah).
Mendikte bisa jadi hal yang berguna agar seseorang dapat
menulis perkataan penutur dengan mudah dan tepat baik titik, koma maupun tanda
baca lainnya agar tidak terjadi kekeliruan. Namun mendikte dalam hal ini sangat
keliru. Suatu bentuk pendidikan yang pada hakikatnya tidak mendidik sama
sekali. Pada akhirnya nilai kritis yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa
dalam mengambil langkah untuk mengembangkan dirinya sirna tertelan oleh
otoritas sang pendikte. Tanpa bisa mengkritisi, berkompromi bahkan bisa meraih
mufakat sebagai sebuah proses pendewasaan kepemimpinan ketika menampuk pemerintahan.
Tak ada bedanya dengan masa otoritarian yang diciptakan
oleh para diktator atau pendikte. Ciri yang kentara bahwa otoritarian terjadi di
kampus ini adalah selalu saja salah
ketika beberapa tahun lalu pemira dilaksanakan. Salah satu indikasi ciri dari
sang pendikte akan membatasi pekerjaan seseorang, yaitu agar orang tersebut
bekerja menurut prosedur dan aturan yang ada. Jika orang itu tidak mengerti dan
tidak menjalankan tugasnya dengan baik, ia akan dianggap salah. Selalu saja
salah, akhir yang terjadi, kesalahan-kesalah beruntun dari hal perencanaan,
sosialisasi, prosesi dan hasil akhirnya pada pemira kali ini.
Selain itu dalam hal komunikasi sang pendikte dalam
menjalankan tugasnya baik dalam menyampaikan gagasan, pemikiran, dan pesan,
hanya mengenal satu bentuk komunikasi, yaitu instruksi. Istilah yang dikenalnya
terbatas pada pengarahan, petunjuk, wejangan, perintah, pembinaan, sehingga
bentuk komunikasi yang sifatnya sekadar memberitahu perkaranya (informatif)
dianggap sudah mencukupi. Sang pendikte hanya mau melakukan komunikasi searah
tanpa mengindahkan diskusi atau dialog yang menghasilkan sintesa dari semua
kebijakan yang ada.
Memang sebuah keniscayaan ketika pergulatan nilai kritis
dan skeptisisme kembali dipertanyakan dan disandingkan dengan mahasiswa saat
ini. “Sudahlah ini bukan zaman otoritarian
lagi mas, kita ini sudah mahasiswa, masih saja diatur dan kita nggak
punya sikap”, satu teman ngopi saya menyeletuk.