Kamis, 29 Agustus 2013

Kamu Nyata

Tak menjadi persoalan apakah kamu mau membalasnya atau tidak. Tapi setelah aku mengetahui bahwa keyakinan yang telah aku tanam itu harus dipupuk, disiram dan dirawat. Seperti tanaman di pekarangan rumah yang selalu ibu siram dan aku pun juga menyiramnya jika aku memang sedang ada di rumah. Keteduhan itu memberikan sebuah pengharapan akan ketenangan dan kedamaian. 

Bukan, bukan seberapa banyak kamu menyiram dan memberi pupuk pada tanaman, tapi konsistensi lah yang setiap perbuatan yang menjadi ukuran. Biar sedikit tapi konsisten. Seperti mengingat Tuhan dan Ibu dan mendoakan kamu agar selalu diberikan kesehatan. Setiap energi yang aku keluarkan pasti berbuah kepastian. Ya suatu saat.

Kamu terlalu berharga di dalam dan menjadi bagian dari mimpi senja. Kamu memang nyata dan terus hidup dalam mimpi.

Ibn
Ditemani Izzy, Kamu Nyata! Nobox Inifinity 29/08/13

Sabtu, 17 Agustus 2013

Kata-Kata



Kata-kata memenuhi udara. Kata-kata menempel pada dinding. Kata-kata hinggap pada pintu. Kata-kata bertumpuk di atas meja. Kata-kata melekat pada jendela lalu terbang memenuhi langit.

Kata-kata menjadi awan. Kata-kata menjadi hujan. Kata-kata membawa banjir. Kata-kata membawa bencana. Kata-kata menjadi maut yang merenggut petani-petani terkapar tak berdaya.

Kata-kata menjadi mesin. Kata-kata merusak hutan. Kata-kata menguras laut. Kata-kata mengeringkan minyak bumi. Kata-kata meringkus para penggalas. Kata-kata memborgol para nelayan yang terdampar dengan perahunya yang rapuh.

Kata-kata menjadi senjata. Kata-kata menjadi peluru. Kata-kata menjadi meriam. Kata-kata menjadi bom. Kata-kata memberondong para prajurit yang hendak memeluk anaknya sendiri yang terjebak dalam kata-kata.

Kata-kata terus ditebarkan mulut. Kata-kata terus memekakkan telinga. Kata-kata terus menyesakkan dada.

Lagi-lagi aku baca dan kembali menuliskan salah satu puisi dari Kumpulan Nama dan Makna karya Ajip Rosidi.

Ibn
NOBOX dini hari bersama Kings Of Convenience 17/08/13 tetap merdeka!!!


Rabu, 07 Agustus 2013

Bayangan



Bayanganmu terekam pada permukaan piring, pada dinding
Pada langit, awan, ah ke mana pun aku berpaling;
Dan di atas atap rumah angin pun bangkit berdesir
Menyampaikan bisikmu dalam dunia penuh bisik.

 Masihkah dinihari Januari yang renyai
Suatu tempat bagi tanganku membelai?
Telah habis segala kata namun tak terucapkan
Rindu yang berupa suatu kebenaran.
 
Bayangan, ah bayanganmu yang menagih selalu
Tidakkah segalanya sudah kusampaikan demi Waktu?
Tahun-tahun pun akan sepi berlalu, kutahu
Karena dunia resah kan diam membisu*

*Nukilan puisi Ajip Rosidi.

Mohon maaf lahir batin! Aku pun banyak mengingat tentang orangtua dan saudara yang sudah lama meninggalkan kami, begitu juga dengan kamu yang selalu dalam kenang dalam bayang. Allahumma Innaka 'Afuwwun Karim Tuhibb al 'Afwa Fa'fu Anna ya Kariim. 

Ibn
Al-Hidayah, 07/08/13