Selembut doa-doa pagi yang rutin telah kucecap
semua rasa di tahun 2012. Banyak pergulatan baik pikiran emosi dan tenaga. Tapi
aku merasa ada yang kurang dan harus ada kenangan yang dihilangkan walau sulit
untuk dilupakan. Ah, ini Cuma racauan aku saja, ada yang lebih penting dari
semua hal ini.
Sudah tahun 2013, setiap orang berfikir dan
berharap dengan resolusinya. Ketika aku berefleksi memang di tahun kemarin aku
banyak menyia-nyiakan waktu, dan waktu begitu cepat berlalu. Lalu apa resolusi
yang aku buat? Pertanyaan mendasar pada setiap jiwa manusia yang menginginkan
kehidupan lebih baik.
Aku teringat dengan tulisan Bre Redana tentang
Memento Mori yang dimuat di harian kompas. Memento Mori? Dalam bahasa latin
artinya ingat kefanaanmu. Apakah kita ini manusia fana? Secara fisik dan rasio
yang kita miliki, kita adalah makhluk berwujud yang hidup bersosialisasi dan
pada akhirnya mati dan kembali ke sang
Pencipta. Namun tanpa disadari lingkungan sosial kita
mengisyaratkan bagaimana pragmatisme menjadi solusi atas segala hal. Satu hal
yang membawa manfaat bagi kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada
kepentingan bersama.
Contoh
kecil dalam dunia pendidikan, seorang mahasiswa menuturkan “idealisme sudah
mati” sekarang lebih baik cepat lulus kuliah dengan mengikuti semester pendek
dari pada harus mengulang di semester panjang. Ilmu iku
kalakone kanti laku (pencapaian
ilmu itu melalui proses belajar). Nah, Sikap
pragmatis dan reduksionis itulah yang akhirnya melegitimasi banyaknya praktik jual beli gelar.
Memang
Dunia pasca-ideologi sejatinya cuma berisi kepentingan-kepentingan pragmatis. Tidak
semua hal bisa dinalar secara pragmatis kawan.
Nalar pragmatik berdasar pada situasi yang kontekstual beda dengan semantis
yang bebas dari konteks dan lebih mengedepankan makna. Pragmatik bisa diartikan
bersifat praktis dan berguna bagi umum, bersifat mengutamakan segi kepraktisan
dan kegunaan (kemanfaatan), mengenai/bersangkutan dengan nilai-nilai praktis. Karena
itu, pragmatisme memandang
bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah faedah atau manfaat. Pragmatisme
dirintis di Amerika oleh Charles S. Pierce (1839-1942) yang kemudian
dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).
Ada hal
yang menarik meski pragmatisme adalah cabang dari empirisme yang mengedepankan
panca indera tapi efeknya adalah sebaliknya. Apakah panca indera dan segala
nilai-nilai empirik itu dapat memenuhi kebutuhan akan kepuasan suatu hal?
Disinilah terdapat kekeliruan dari nalar pragmatis. Pragmatisme menafikkan peran akal manusia.
Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan
standar-standar tertentu. Sedangkan penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan
kebutuhannya adalah identifikasi naluriah. Memang, identifikasi naluriah dapat
menjadi ukuran kepuasan manusia dalam memuaskan hasratnya, tetapi tidak dapat menjadi ukuran kebenaran
sebuah ide. Artinya, pragmatisme telah menafikkan aktifitas intelektual dan
menggantinya dengan identifikasi naluriah. Dengan kata lain, pragmatisme telah
menundukkan keputusan akal pada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi
naluriah. Ya seperti contoh tadi.
Pragmatisme “One Dimensional Man”
Entah
apakah pragmatisme ada kaitannya dengan teori yang dikemukakan oleh Herbert
Marcuse tentang manusia satu dimensi. Namun ada hal yang bisa penulis simpulkan
bahwa manusia sekarang ditindas oleh masyarakat industri modern yang sengaja
menciptakan manusia-manusia dengan nalar pragmatis. Ciri khas dari masyarakat industri modern
adalah peranan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasionalitas zaman ini adalah
rasionalitas teknologi. Segalanya dipandang dan dihargai sejauh dapat dikuasai,
digunakan, diperalat, dimanipulasi dan ditangani.
Instrumentalisasi menjadi semacam kata kunci
dalam pandangan teknologis. Manusia menciptakan, memanipulasi dan memeralat
benda-benda, alam serta mesin-mesin, untuk memudahkan hidupnya. Selain
instrumentalisasi, ilmu pengetahuan modern juga ditandai dengan istilah
operasionalisasi. Maksud dari operasionalisasi ini menyatakan, ilmu-ilmu
pengetahuan hanya berguna sejauh dapat diterapkan dan bersifat operabel. Ini
tampak dalam penelitian sosial, di mana setiap perubahan yang sifatnya
kualitatif disingkirkan. “Yang
penting gw cepet lulus”
Misalnya,
ketika kurikulum diperkuliahan tidak bisa menghasilkan sarjana-sarjana
berkualitas maka di suruhlah mahasiswa untuk kuliah lebih cepat. Dengan situasi
seperti ini dibentuklah batas maksimal perkuliahan melalui kode etik yang tidak
lebih mengedepankan hubungan emosional antara pendidik dan peserta didik agar
menjadi mahasiswa yang berkualitas. Singkatnya,
masalah atau kesukaran disingkirkan tanpa mengubah struktur masyarakat pendidikan tinggi. Sistem tetap dipertahankan.
Dalam komunikasi massa dan kebudayaan massa di
era pasca-ideologi saat ini, dapat dikatakan bahwa budaya massa adalah budaya
popular yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan
dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan khalayak konsumen massa. Dengan
berbagai macam manipulasi yang disajikan maka bisa dikatakan keadaan seperti
sekarang seperti mitos oleh Roland Barthes.
Mitos pada mulanya adalah cerita-cerita suci
yang diceritakan secara turun temurun, biasanya kepada mereka yang sudah
diinisiasi. Mitos menurut Roland Bartes berhubungan dengan bahasa dimana
petanda, penanda dan tanda menjadi bagian dari usaha mengerti makna dari mitos.
Pada pengertian ini mitos mengalami pergeseran arti, sehingga mitos bukan lagi
sebuah cerita suci yang menjadi pedoman arah dalam hidup masyarakat, melainkan
mitos sebagai cara menyampaikan sesuatu, tidak secara tekstual tetapi cara
melihat makna dibalik yang tekstual.
Salah satu produk dari mitos adalah iklan,
bagaimanapun media berperan penting dalam penyebaran mitos. Komunikasi massa
yang ditampilkan menjadi konsumsi dalam kebudayaan massa. Masyarakat kian
diarahkan menjadi konsumen-konsumen produk dari kapitalis yang secara tersirat
membentuk nalar pragmatis dimasyarakat. Efeknya adalah kita menjadi semakin
kesulitan mencari nilai sejati yang terkandung pada suatu produk yang
dikonsumsi. Apakah konsumsi itu berdasarkan pada nilai kebutuhan atau hanya
sekadar pemenuhan hasrat.
Membongkar Mitos
Sangat
disadari usaha melarikan diri dari perangkap budaya massa itu sulit sekali. Hanya
kesadaran berefleksi dan memuhasabah diri melalui Memento Mori menurut
penulis ini seagai salah satu cara keluar dari perangkap budaya. Walau pada
kenyataannya kita selalu bergelut dengan budaya massa dan kita hidup di
dalamnya. Dengan usaha membongkar melalui semiologi dan pembacaan di luar teks
maka kita akan mendapatkan makna apa yang terkandung di dalam pesan yang
disampaikan oleh situasi yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai simulacra.
Coba baca lagi, mungkin usaha ini akan menjadikan kita pribadi yang lebih
bijak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar