Selasa, 22 Januari 2013

KTP


Azis senja itu membawa tentengan tas berisi jam tangan abal-abal dari berbagai merek terkenal yang akan dijualnya esok di emperan pertokoan pasar Kebayoran Lama. Sepanjang jalan Pasar  lampu jalan telah menyala seperti barisan kunang-kunang. Azis menuju stasiun tanah abang untuk naik kereta api.

Dengan tergesa-gesa ia mempercepat langkahnya. Kerumunan calon penumpang memadati stasiun. Aziz membeli tiket kereta api tujuan Rangkasbitung. Uang Rp. 1500 ia keluarkan dari dompet di tas pinggangnya. Sedikit perasaan waspada, ia menyelipkan tiket itu di saku depan celananya agar mudah ia serahkan ke kondektur sewaktu tiket itu diminta.

Azis menyegerakan langkahnya menuju peron jalur 6. Dari arah utara keselatan nampak penumpang memadati peron hampir tak ada ruang untuk mengambil kesempatan naik kereta terlebih dulu. Azis menuju peron paling utara. Selang beberapa menit ia sampai, kereta itu tiba. Deru mesin dibarengi dengan klakson dari lokomotif memekikan telinga ketika berpapasan dengan para penumpang. Kereta itu akhirnya berhenti. Gerbong paling belakang  yang diincar Azis, tak disangka gerbong itu sudah dipadati oleh penumpang. Ia pun berusaha dan meringsek masuk kedalam gerbong. Penumpang lainpun melakukan hal yang sama. Tiba-tiba saja ada sorang penumpang yang menerabas keluar dari dalam gerbong dan ia merampas tas pinggang Azis.

Tak terasa oleh Azis tas pinggangnya raib saat ia sudah berada dalam gerbong dan kereta mulai berjalan. Hampir tak ada ruang, Azis memaksakan menaruh barang dagangannya di dekat pintu. Kemudian aziz sadar, ia ingat didalamya terdapat uang berisi 500 ribu buat tambahan ia kawin.Yang tersisa hanya dompet berisi KTP yang ia taruh di saku depan celananya. Azis kesal karena sudah tidak mungkin lagi ia mengejar penjambret itu. Kereta sudah melaju kencang. Dua minggu lagi Aziz akan kawin.

Maghrib, Azis sampai di stasiun Kebayoran. Keringat bercucuran di keningnya, bajunya pun gobyos. Di peron stasiun ia membeli sebungkus rokok kretek dari sisa uang belanjanya. Dihisapnya rokok itu sambil melepas peluh. Ia pun pulang dengan penuh kekesalan. Bangsat!!!

“Eh bang Azis sudah pulang. Ada apa bang murung sekali raut mukamu?” Tanya Buyung teman satu kontrakan Azis.

“Taik kuciang, duit buat ambo kawin diambil orang. Sial dangkalan, ambo sumpahi dia biar mencret-mencret kalo makan itu duit. Ambo tak rela bisa-bisanya dia ambil tas ambo. Pintar sekali dia curi kesempatan saat ambo lengah mau naik kereta tadi di stasiun Tanah Abang”. Azis terus bergumam dan sumpah serapah terus terlontar dari mulutnya.

“Sudahlah bang. Mau bagiamana lagi. Nih aku sudah sisakan nasi padang buat abang. Makan dulu lah kau bang. Bukannya kemarin kau bilang padaku kalau duitmu itu sudah cukup buat kau kawin esok. Sudahlah memangnya berapa banyak kau kehilangan itu duit hah? Tanya buyung.

500 ribu yung. Jawab azis

Sudahlah, KTP kau tidak hilang kan?

Nggak yung.
Untung aja bang KTP mu tidak hilang, kan esok kau mau kawin dengan si Jubaedah. Setidaknya kau masih bisa urus surat-surat kawin kau dengan KTP kau itu.

Tadi itu Yung ambo selipkan KTP itu di saku celana depan setelah kirim duit ke ambu ambo di padang sana. Ambo belum punya ATM jadi ambo transfer manual lewat teller. Lalu sebagian uang itu ambo sisakan buat kawin nanti, dan ambo taruh di tas pinggang itu.

“Sudah bang makan dulu lah, nih aku sudah belikan nasi padang lauk gulai cincang. Kau pasti lapar”, buyung menghibur.

Azispun makan namun masih terpikirkan olehnya duit yang dirampas oleh orang tadi. Kalo sampai ketemu lagi akan ku cincang ia biar jadi gulai cincang!!!
Azis memang tidak memikirkan KTP-nya. Yang terus ia pikirkan hanya uang dan cari duit sebanyak-banyaknya.

Keesokan harinya setelah ia pulang dagang ia menyambangi Yanto, Ketua RT yang berpenampilan flamboyan dan sangat peduli dengan warganya. Azis meminta tolong Yanto untuk mengurusi perkawinannya dengan Jubaedah.

Assalamulaikum pak.

Ada apa uda azis? Tanya yanto.

“anu pak RT ambo mau kawin. Ambo minta tolong pak RT bantu ambo mengurusi surat-surat buat ambo kawin nanti.

Duduk dulu zis! Santai aja saya pasti bantu kamu. Coba saya lihat KTP kamu.

Azis mengambil KTP yang sudah nampak usang itu dari dompetnya yang lusuh.

Wah bagaimana sih kamu zis, KTP kamu sudah mau habis masa berlakunya. Cepat-cepatlah kamu perpanjang KTP mu itu. Biar aku urus juga.

Dua hari setelah ia kawin dengan Jubaedah Tertera di KTP itu kalau tanggal 21 November 2010 nanti KTP akan habis.

Memang si aziz sudah kebelet kawin tak dihiraukanlah omongan yanto.

Sudahlah Pak RT, yang penting masih hidup KTP ambo. Ambo kan masih bisa ngurus surat-surat perkawinan ambo dengan KTP itu kan?

Baiklah,. Tapi nanti setelah kamu kawin, cepat-cepatlah kamu perpanjang itu KTP, ujar Yanto., kamu datang saja lagi kerumahku, pasti aku bantu.
Dua minggu setelah azis kawin belum juga Ia  mengurus KTP nya itu. Ia pun belum berpamitan dengan Yanto malah ia pulang  untuk memamerkan bininya ke orang-orang di sekampung halamannya. Sudahlah.

***

“Kemana si Aziz sudah dua minggu lebih ia nggak kelihatan batang hidungnya. Katanya ia mau mengurus KTP yang sudah mati itu”. Yanto menyambangi kontrakan aziz dan bertanya kepada si Buyung.

“Dua hari setelah ia kawin ia pulang kampung Pak!” Buyung memberi tahu.

Kok nggak pamitan sama saya. Saya heran dengan itu orang. Katanya, ia pasti akan mengurusi KTP-nya tapi nyatanya sampai sekarang ia belum juga ketemu dengan saya. Terlebih dia tidak berpamitan dengan saya. Maksud saya kan baik nanti kalau ada urusan dengan birokrasi sulit kalau KTP itu sudah habis masa berlakunya. Sudahlah biarkan saja..

                                                                        ***

Dua tahun kemudian ujug-ujug Azis datang kerumah yanto sambil menangis dan meminta bantuannya. Ada apa zis? Sudah lama baru nongol lagi kamu. Kamu datang ke rumah saya kalo ada perlunya saja. Yanto kesal.

“Begini pak RT, istri saya sakit keras pak. Saya minta bantuan bapak untuk membuat surat keterangan tidak mampu dari RT agar dapat diberikan keringanan buat biaya berobat ke rumah sakit.” Dengan isak tangis azis memohon bantuan Yanto.

Baiklah, coba saya lihat KTP mu.

Azis memperlihatkan KTP usang itu setelah dua tahun lalu ia juga pernah memperlihatkannya ke Yanto.

“Astaghfirullah!!! Belum juga kamu perpanjang KTP itu? Tanya yanto dengan keheranan. Saya nggak jamin kalau nantinya kamu bakal dapat keringanan biaya dari rumah sakit.”

Saya mohon Pak. Tolong buatkan surat pengantar keterangan tidak mampu agar bini saya bisa berobat. Perabotan rumah sudah saya jual semua untuk berobat tapi belum sembuh juga sampai sekarang. Tolonglah pak RT. Tolong, Tolong dibuatkan!!!

Yanto merasa kasihan dengan Aziz, akhirnya dibuatkanlah surat itu tapi ia tidak bisa menjamin kalau bininya itu bakal diterima di rumah sakit.

Cepat-cepatlah aziz ke rumah sakit untuk mengurusi administrasi pengobatan bininya itu dengan membawa secarik surat keterangan tidak mampu. Ketika disuruh memperlihatkan KTP-nya ternyata benar. Ditolaklah surat itu oleh pihak rumah sakit. Azis tidak dapat berbuat banyak. Pulanglah bininya itu ke pangkuan Ilahi.

***
Dua bulan setelah kematian istrinya itu azis menghilang entah kemana. Tak ada kabar. Ada yang bilang kalau dia pindah kontrakan. Tapi pindah kemana?

Suatu hari tidak sengaja ketika Aziz sedang berjualan di pasar Kebayoran Lama saat menjelang hari raya Idul fitri, Yanto bertemu dengannya. Saat itu Yanto kembali menanyakan, apakah KTP-mu itu sudah diperpanjang?

Belum…, Jawab Aziz


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar