Azis senja itu membawa tentengan tas berisi jam tangan abal-abal dari berbagai merek terkenal yang akan dijualnya esok di emperan pertokoan pasar Kebayoran Lama. Sepanjang jalan Pasar lampu jalan telah menyala seperti barisan kunang-kunang. Azis menuju stasiun tanah abang untuk naik kereta api.
Dengan tergesa-gesa ia
mempercepat langkahnya. Kerumunan calon penumpang memadati stasiun. Aziz
membeli tiket kereta api tujuan Rangkasbitung. Uang Rp. 1500 ia keluarkan dari
dompet di tas pinggangnya. Sedikit perasaan waspada, ia menyelipkan tiket
itu di saku depan celananya agar mudah ia serahkan ke kondektur sewaktu tiket
itu diminta.
Azis menyegerakan langkahnya
menuju peron jalur 6. Dari arah utara keselatan nampak penumpang memadati peron
hampir tak ada ruang untuk mengambil kesempatan naik kereta terlebih dulu. Azis
menuju peron paling utara. Selang beberapa menit ia sampai, kereta itu tiba. Deru
mesin dibarengi dengan klakson dari lokomotif memekikan telinga ketika
berpapasan dengan para penumpang. Kereta itu akhirnya berhenti. Gerbong paling
belakang yang diincar Azis, tak disangka
gerbong itu sudah dipadati oleh penumpang. Ia pun berusaha dan meringsek masuk
kedalam gerbong. Penumpang lainpun melakukan hal yang sama. Tiba-tiba saja ada
sorang penumpang yang menerabas keluar dari dalam gerbong dan ia merampas tas
pinggang Azis.
Tak terasa oleh Azis tas
pinggangnya raib saat ia sudah berada dalam gerbong dan kereta mulai berjalan.
Hampir tak ada ruang, Azis memaksakan menaruh barang dagangannya di dekat
pintu. Kemudian aziz sadar, ia ingat didalamya terdapat uang berisi 500 ribu
buat tambahan ia kawin.Yang tersisa hanya dompet berisi KTP yang ia taruh di
saku depan celananya. Azis kesal karena sudah tidak mungkin lagi ia mengejar
penjambret itu. Kereta sudah melaju kencang. Dua minggu lagi Aziz akan kawin.
Maghrib, Azis sampai di stasiun Kebayoran.
Keringat bercucuran di keningnya, bajunya pun gobyos. Di peron stasiun ia
membeli sebungkus rokok kretek dari sisa uang belanjanya. Dihisapnya rokok itu
sambil melepas peluh. Ia pun pulang dengan penuh kekesalan. Bangsat!!!
“Eh bang Azis sudah pulang. Ada
apa bang murung sekali raut mukamu?” Tanya Buyung teman satu kontrakan Azis.
“Taik kuciang, duit buat ambo kawin
diambil orang. Sial dangkalan, ambo sumpahi dia biar mencret-mencret kalo makan
itu duit. Ambo tak rela bisa-bisanya dia ambil tas ambo. Pintar sekali dia curi
kesempatan saat ambo lengah mau naik kereta tadi di stasiun Tanah Abang”. Azis
terus bergumam dan sumpah serapah terus terlontar dari mulutnya.
“Sudahlah bang. Mau bagiamana
lagi. Nih aku sudah sisakan nasi padang
buat abang. Makan dulu lah kau bang. Bukannya kemarin kau bilang padaku kalau
duitmu itu sudah cukup buat kau kawin esok. Sudahlah memangnya berapa banyak
kau kehilangan itu duit hah? Tanya buyung.
500 ribu yung. Jawab azis
Sudahlah, KTP kau tidak hilang kan?
Nggak yung.
Untung aja bang KTP mu tidak
hilang, kan
esok kau mau kawin dengan si Jubaedah. Setidaknya kau masih bisa urus
surat-surat kawin kau dengan KTP kau itu.
Tadi itu Yung ambo selipkan KTP itu
di saku celana depan setelah kirim duit ke ambu ambo di padang
sana. Ambo
belum punya ATM jadi ambo transfer manual lewat teller. Lalu sebagian uang itu
ambo sisakan buat kawin nanti, dan ambo taruh di tas pinggang itu.
“Sudah bang makan dulu lah, nih
aku sudah belikan nasi padang lauk gulai cincang. Kau pasti lapar”, buyung
menghibur.
Azispun makan namun masih
terpikirkan olehnya duit yang dirampas oleh orang tadi. Kalo sampai ketemu lagi
akan ku cincang ia biar jadi gulai cincang!!!
Azis memang tidak memikirkan
KTP-nya. Yang terus ia pikirkan hanya uang dan cari duit sebanyak-banyaknya.
Keesokan harinya setelah ia
pulang dagang ia menyambangi Yanto, Ketua RT yang berpenampilan flamboyan dan
sangat peduli dengan warganya. Azis meminta tolong Yanto untuk mengurusi
perkawinannya dengan Jubaedah.
Assalamulaikum pak.
Ada apa uda azis? Tanya yanto.
“anu pak RT ambo mau kawin. Ambo
minta tolong pak RT bantu ambo mengurusi surat-surat buat ambo kawin nanti.
Duduk dulu zis! Santai aja saya
pasti bantu kamu. Coba saya lihat KTP kamu.
Azis mengambil KTP yang sudah
nampak usang itu dari dompetnya yang lusuh.
Wah bagaimana sih kamu zis, KTP
kamu sudah mau habis masa berlakunya. Cepat-cepatlah kamu perpanjang KTP mu
itu. Biar aku urus juga.
Dua hari setelah ia kawin dengan
Jubaedah Tertera di KTP itu kalau tanggal 21 November 2010 nanti KTP akan
habis.
Memang si aziz sudah kebelet
kawin tak dihiraukanlah omongan yanto.
Sudahlah Pak RT, yang penting
masih hidup KTP ambo. Ambo kan masih bisa
ngurus surat-surat perkawinan ambo dengan KTP itu kan?
Baiklah,. Tapi nanti setelah kamu
kawin, cepat-cepatlah kamu perpanjang itu KTP, ujar Yanto., kamu datang saja
lagi kerumahku, pasti aku bantu.
Dua minggu setelah azis kawin belum
juga Ia mengurus KTP nya itu. Ia pun
belum berpamitan dengan Yanto malah ia pulang untuk memamerkan bininya ke orang-orang di sekampung
halamannya. Sudahlah.
***
“Kemana si Aziz sudah dua minggu
lebih ia nggak kelihatan batang hidungnya. Katanya ia mau mengurus KTP yang
sudah mati itu”. Yanto menyambangi kontrakan aziz dan bertanya kepada si
Buyung.
“Dua hari setelah ia kawin ia
pulang kampung Pak!” Buyung memberi tahu.
Kok nggak pamitan sama saya. Saya
heran dengan itu orang. Katanya, ia pasti akan mengurusi KTP-nya tapi nyatanya
sampai sekarang ia belum juga ketemu dengan saya. Terlebih dia tidak berpamitan
dengan saya. Maksud saya kan
baik nanti kalau ada urusan dengan birokrasi sulit kalau KTP itu sudah habis
masa berlakunya. Sudahlah biarkan saja..
***
Dua tahun kemudian ujug-ujug Azis
datang kerumah yanto sambil menangis dan meminta bantuannya. Ada apa zis? Sudah lama baru nongol lagi
kamu. Kamu datang ke rumah saya kalo ada perlunya saja. Yanto kesal.
“Begini pak RT, istri saya sakit
keras pak. Saya minta bantuan bapak untuk membuat surat keterangan tidak mampu dari
RT agar dapat diberikan keringanan buat biaya berobat ke rumah sakit.” Dengan
isak tangis azis memohon bantuan Yanto.
Baiklah, coba saya lihat KTP mu.
Azis memperlihatkan KTP usang itu
setelah dua tahun lalu ia juga pernah memperlihatkannya ke Yanto.
“Astaghfirullah!!! Belum juga
kamu perpanjang KTP itu? Tanya yanto dengan keheranan. Saya nggak jamin kalau
nantinya kamu bakal dapat keringanan biaya dari rumah sakit.”
Saya mohon Pak. Tolong buatkan surat pengantar keterangan
tidak mampu agar bini saya bisa berobat. Perabotan rumah sudah saya jual semua
untuk berobat tapi belum sembuh juga sampai sekarang. Tolonglah pak RT. Tolong,
Tolong dibuatkan!!!
Yanto merasa kasihan dengan Aziz,
akhirnya dibuatkanlah surat itu tapi ia tidak bisa menjamin kalau bininya itu
bakal diterima di rumah sakit.
Cepat-cepatlah aziz ke rumah
sakit untuk mengurusi administrasi pengobatan bininya itu dengan membawa
secarik surat keterangan tidak mampu. Ketika disuruh memperlihatkan KTP-nya
ternyata benar. Ditolaklah surat
itu oleh pihak rumah sakit. Azis tidak dapat berbuat banyak. Pulanglah bininya
itu ke pangkuan Ilahi.
***
Dua bulan setelah kematian
istrinya itu azis menghilang entah kemana. Tak ada kabar. Ada yang bilang kalau
dia pindah kontrakan. Tapi pindah kemana?
Suatu hari tidak sengaja ketika Aziz
sedang berjualan di pasar Kebayoran Lama saat menjelang hari raya Idul fitri, Yanto
bertemu dengannya. Saat itu Yanto kembali menanyakan, apakah KTP-mu itu sudah
diperpanjang?
Belum…, Jawab Aziz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar