Kamis, 16 Mei 2013

Dendam Tinggal Cerita


Di atas bumi di bawah langit. Sore ini angin terasa begitu lembut membelai kulit. Aroma tanah semerbak tercium sehabis gerimis itu mereda. Dedauanan hijau yang tumbuh di pekarangan rumah merona diterpa surya senja. Telah habis pilu juga luka, ditinggal oleh waktu yang bergegas. Saat semua mengatakan, ah sudah jangan berpikir lagi dan merasa bahwa rasa iba itu akan tiba darinya.

Aku tahu setiap manusia diciptakan oleh pencipta dalam keadaan bersahaja. Balutan kebaikan itu selalu terpancar kala terlahir di dunia. Telah aku baca, manusia baik sahaja akan terus dalam keadaan merdeka, meskipun akan selalu diterpa oleh godaan nafsu yang di nisbatkan oleh sang Kuasa. Dan manusia yang berbuat kejahatan serta menuruti kehendak setan, ialah manusia yang terpenjara oleh sikap dan perbuatannya. Tidak bebas, selalu saja ada tuntutan dari nafsu yang menggelayuti punggungnya.

Cuk, tak ada secangkir kopi hitam, sebatang kretek untuk dihela juga tidak ada. Mulut yang sepah karena kebanyakan sumpah serapah diracuni oleh otak yang gelisah. Mama, kamu dimana bersembunyi? Lari dari rasa mengasihi, kamu malah mengejar birahi! Seandainya saja anak yang sekarang kamu tinggal pergi ini dapat berucap, ah sendainya saja…

Mama mana yang tega meninggalkan buah hatinya, darah dagingnya? Anak itu bukan bangkai, tikus,, kucing ataupun anjing. Ketika mati sangat mudah dikuburkan. Namun anak ini adalah manusia, darah dagingmu! Telah susah payah kamu melahirkannya, tanpa suami menemani. Kesana kemari aku mencari dukun beranak, kala itu ingusku pun masih menggelayut.

Baskom air hangat, handuk basah, ranjang yang berdarah dan ari-ari yang memerah, anakmu beringsut keluar dari rahim. Melihat dunia dan belajar mengenal fana, tanpa bapak.  

Tapi hingga kini aku berjenggot dan anak bangkaimu ini sekarang berbaring di pangkuanku dan ibu. Di bale-bale tempat ia beraktifitas selama hampir 16 tahun. Kesabaran, kesedihan juga dosa yang sengaja maupun tidak, tetap saja kami urus dengan cinta. Luka mendera, cibiran orang meringsek masuk ketelinga, aku berusaha keras mengeluarkannnya kembali, berharap tidak ada noda di hati.

Jumat usai senja, dengan mata memejam dan nafas yang tersengal, adzan menggema, pertanda waktu shalat tiba. Air zamzam yang tertelan tadi hanya sekejap mampu membuka matanya. Dialiri air mata perasaan lega. Tuhan telah memanggilnya untuk berada di sisi terbaik-Nya. Nabi pun berucap, di akhirat kelak, kamu yang menghidupi anak yatim dengan kasih sayang akan berjalan berdampingan dengannya seperti dekatnya telunjuk dengan jari tengah.

Tapi sepertinya waktu bisa menjawab semua. Semua pilihan ada pada genggaman, namun aku tahu apa yang telah ada dalam genggaman semuanya tak mengakar pada tangan, maka apa yang menjadi keyakinan eratkanlah dengan perlahan. Tak perlu terburu-buru dan mengharu biru.


*ibn

ruang temu, ditemani putaran The Unforgiven dari album “Black” Metallica 16/05/13


Tidak ada komentar:

Posting Komentar