Senin, 20 Mei 2013

Rupanya Tak Ada Namaku di Sana



Sehangat kopi yang ku buat sore ini dan berubah jadi dingin.  Masih terasa manis dan berakhir pahit. Memang begitulah kopi yang  sering aku buat, dominasi rasa pahit akan selalu tercecap meski aku sudah mencampurnya dengan gula. Kopiku ini sederhana, sesederhana memahami tiap tingkah laku yang kamu buat.

Di mana pun kamu berada, aku, akulah yang telah hidup dalam setiap pergulatan yang telah Tuhan tetapkan. Aku, akulah yang masih belajar mencoba mengenalmu dan Tuhanmu. Akulah yang mengalaminya. Aku, akulah yang menemukanmu dari balik  senyum getirmu saat senja itu dalam sinar paling akhir yang mengkilapkan gedung-gedung berselimut lembayung. 

Perlahan senja merona itu akan memudar dan berganti gelap. Seutas kata, segudang makna, masih saja aku cari-cari apa yang sedang kamu alami. Besarnya rasa ingin tahuku tentang keadaanmu malah membuatku semakin mengingat rasa pahit yang mengecap di lidah.  Rasa manis itu pun selalu kuingat, tapi tetap saja ketika kekahawatiranku tak berbalas apa-apa, kamu pun terus saja menanggung masa lalumu yang menurutku itu sampah.

Waktu yang mengalir, selama itu juga sudah kamu tahan sekuat yang kamu bisa. Namun masih saja kamu tunduk dengan rindu menggebu. Bukan hal aneh bagimu, berderet lembaran kenangan telah kamu tuliskan. Cacian, makian dan umpatan tentang sebuah nama. Nama yang enggan kamu ceritakan. 

Hidupmu, keluargamu, rintihanmu, tangismu dan tawamu apakah nama itu juga merasakan?

Tapi berulang kali kamu bisa memaafkan. Bukan, kamu memang bisa memaafkan, tapi getir itu tak bisa bersembunyi di balik senyummu yang menipu. Kamu bukannya tak bisa melawan. Kamu ingin. Tapi selalu ada saja alasan kuat yang kamu buat. Deretan kata-kata itu selalu saja bisa menguatkanmu dan keimananmu atas nama itu tetap saja tak goyah. Dan kamu pernah mengatakan, aku akan tetap menyayangi nama itu dalam tangis dan tawa.

Nama itu mengeluh padamu, mengandaikan Tuhan mengulang waktunya denganmu.

Akankah ini suatu permainan? Sedangkan wajah menjadi layu. Masihkah kita mesti bicara, apa yang lebih menusuk dari mata yang diam dan membunuh setiap kata. Matamu berbicara, senja akan berakhir. Karena malam yang datang selalu berteman denganmu menuangkan resah di tiap-tiap sudutnya. Dan saat siang berkelana kamu pun ikut bersamanya, ya bersama mentari yang kamu harap bisa membakar dan membuat namanya sirna. Siklus ini terulang.

Iya, terulang. Pasti ini mimpi, padahal aku berdiri dan berdenyut nadi-nadi. Lalu kamu taruh namaku di mana? Saat semua kata berubah tenaga, saat semua doa menjelma bahagia. Aku tak tahu tempatku di mana disaat para pejabat bersaing memburu pangkat, mengumpat tak ingat akan tanggung jawabnya terhadap umat. Namun hanya satu harap setiap waktu yang kuingat moga kamu selalu dalam keadaan selamat, sehat wal afiat. Segalanya akan berjalan baik-baik saja. 

Lalu kamu taruh namaku di mana? Dengan basmalah saat dhuha menghangatkan hari, saat siang menjadi api, saat senja menuangkan kopi, dan saat malam yang temaram menjelma tenteram. Saat namamu mengeringkan luka, saat namamu mengajakku ke bukit-bukit  edelweis dan savanna. Namamu, namamu pula yang mengantarku ke puncak dewa-dewi bersama nama ibu dan Tuhanku. Dan sekali lagi dalam tanya, kamu taruh namaku di mana?


 *ibn


Ruang temu, berkawan dengan kompilasi dan diakhiri “When The Smoke Is Going Down-Scorpion”.19/05/13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar