Sehangat kopi yang ku buat sore ini dan berubah jadi dingin. Masih terasa manis dan berakhir pahit. Memang begitulah
kopi yang sering aku buat, dominasi rasa
pahit akan selalu tercecap meski aku sudah mencampurnya dengan gula. Kopiku ini
sederhana, sesederhana memahami tiap tingkah laku yang kamu buat.
Di mana pun kamu berada, aku, akulah yang telah hidup dalam setiap
pergulatan yang telah Tuhan tetapkan. Aku, akulah yang masih belajar mencoba
mengenalmu dan Tuhanmu. Akulah yang mengalaminya. Aku, akulah yang menemukanmu
dari balik senyum getirmu saat senja itu
dalam sinar paling akhir yang mengkilapkan gedung-gedung berselimut lembayung.
Perlahan senja merona itu akan memudar dan berganti gelap. Seutas kata,
segudang makna, masih saja aku cari-cari apa yang sedang kamu alami. Besarnya rasa
ingin tahuku tentang keadaanmu malah membuatku semakin mengingat rasa pahit
yang mengecap di lidah. Rasa manis itu
pun selalu kuingat, tapi tetap saja ketika kekahawatiranku tak berbalas apa-apa,
kamu pun terus saja menanggung masa lalumu yang menurutku itu sampah.
Waktu yang mengalir, selama itu juga sudah kamu tahan sekuat yang
kamu bisa. Namun masih saja kamu tunduk dengan rindu menggebu. Bukan hal aneh bagimu,
berderet lembaran kenangan telah kamu tuliskan. Cacian, makian dan umpatan
tentang sebuah nama. Nama yang enggan kamu ceritakan.
Hidupmu, keluargamu, rintihanmu, tangismu dan tawamu apakah nama itu
juga merasakan?
Tapi berulang kali kamu bisa memaafkan. Bukan, kamu memang bisa memaafkan,
tapi getir itu tak bisa bersembunyi di balik senyummu yang menipu. Kamu bukannya
tak bisa melawan. Kamu ingin. Tapi selalu ada saja alasan kuat yang kamu buat. Deretan
kata-kata itu selalu saja bisa menguatkanmu dan keimananmu atas nama itu tetap
saja tak goyah. Dan kamu pernah mengatakan, aku akan tetap menyayangi nama itu
dalam tangis dan tawa.
Nama itu mengeluh padamu, mengandaikan Tuhan mengulang waktunya
denganmu.
Akankah ini suatu permainan? Sedangkan wajah menjadi layu. Masihkah
kita mesti bicara, apa yang lebih menusuk dari mata yang diam dan membunuh
setiap kata. Matamu berbicara, senja akan berakhir. Karena malam yang datang
selalu berteman denganmu menuangkan resah di tiap-tiap sudutnya. Dan saat siang
berkelana kamu pun ikut bersamanya, ya bersama mentari yang kamu harap bisa
membakar dan membuat namanya sirna. Siklus ini terulang.
Iya, terulang. Pasti ini mimpi, padahal aku berdiri dan berdenyut
nadi-nadi. Lalu kamu taruh namaku di mana? Saat semua kata berubah tenaga, saat
semua doa menjelma bahagia. Aku tak tahu tempatku di mana disaat para pejabat
bersaing memburu pangkat, mengumpat tak ingat akan tanggung jawabnya terhadap
umat. Namun hanya satu harap setiap waktu yang kuingat moga kamu selalu dalam
keadaan selamat, sehat wal afiat. Segalanya akan berjalan baik-baik saja.
Lalu kamu taruh namaku di mana? Dengan basmalah saat dhuha
menghangatkan hari, saat siang menjadi api, saat senja menuangkan kopi, dan
saat malam yang temaram menjelma tenteram. Saat namamu mengeringkan luka, saat
namamu mengajakku ke bukit-bukit edelweis
dan savanna. Namamu, namamu pula yang mengantarku ke puncak dewa-dewi bersama nama
ibu dan Tuhanku. Dan sekali lagi dalam tanya, kamu taruh namaku di mana?
*ibn
Ruang temu, berkawan dengan kompilasi dan diakhiri “When The Smoke
Is Going Down-Scorpion”.19/05/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar