Perjalanan
eksotisku bersama kawan-kawan dari berbagai daerah di tanah air memberikan
kesan yang mendalam pada tiap detil destinasi yang kami kunjungi. Hmm acara
yang di sponsori oleh produsen rokok ternama ini bernama Jelajah Mahakarya
Indonesia
(JMI). Sebuah momen keberuntunganku
menjadi salah satu pemenang dalam acara kali ini. Bagaimana tidak, dari sekitar
160 ribuan orang yang terpilih hanya 36 orang dari penjuru Indonesia.
Senin 29/4 aku
berangkat menuju bandara Internasional Soekarno-Hatta, disana aku bertemu kawan-kawan dari
Bandung dan beberapa orang dari Jakarta untuk bertolak ke Yogyakarta.
Perjalanan dimulai, pesawat kami lepas landas pukul 09.00 WIB dan tiba di
Yogyakarta pukul 10.10 WIB. Sesampainya di sana kami disambut oleh panitia JMI
dan berkumpul di Hotel Sheraton Mustika. Ternyata semua peserta dari penjuru
daerah di tanah air sudah tiba lebih dahulu dan kami adalah rombongan
yang terakhir.
Meskipun Yogyakarta kota yang sudah aku kunjungi beberapa kali tapi pada
momen kali ini sangat berbeda. Perjalanan dari Sheraton Mustika menuju Retro
Classic Cycle (RCC) sangat eksklusif dengan kawalan Patwal. Wah seperti pejabat
saja yang selalu dikawal! Tiba di tempat, terdapat hal yang menarik di sana.
RCC merupakan komunitas yang mengangkat budaya motor custom sebagai bagian dari
Mahakarya Indonesia Kontemporer.
Ada benarnya juga sih menurut mas Lulut Puspo Wibowo, kustom menjadi bagian
budaya baru yang berkembang di Indonesia. Sebagian besar pemilik kendaraan
bermotor di Indonesia pasti akan mengubah atau memodifikasi kendaraannya.
Bermula hanya dari pemasangan stiker hingga perombakan besar secara
keseluruhan. Intinya tampilan kendaraan yang dimiliki bukan lagi standar
keluaran pabrik.
Nah dari hobi suka comot sana sini, mas Lulut sebagai pendiri RCC
menceritakan soal keberadaan RCC ketika menghadiri kontes custom Harley Davidson bertitel
Cool Breaker di Yokohama Jepang. Kontes kustom ini sangat bergengsi dan RCC menjadi
satu-satunya perwakilan dari Asia Tenggara.
Motor bemesin dari Harley Davidson
Sportster 1200 cc lansiran 2007 menjadi sebuah mahakarya anak bangsa. Lulut menciptakan sebuah motor yang diilhami dari
Kereta Kencana milik Keratonan Yogyakarta. Hebatnya lagi HD ini memiliki sebuah
nama yang unik dan mengangkat budaya Indonesia. Motif batik menghiasi
pada setiap detil motor ini dan beberapa motif lain yang ia comot dari relief
candi di Borobudur dan Prambanan. Menurutnya pattern yang menghiasi
motornya itu belum pernah ada yang menggunakan, dan menjadi simbol kebudayaan Indonesia.
Kyai Prakoso adalah nama motor karya RCC yang diberikan oleh Sri Sultan
Hamengkubuwono X. Hmm pokoknya motor besar rasa Jawa bersaing dengan dunia!!!
Setelah penjelasan yang panjang lebar mengenai kehebatan “Kyai Prakoso”
usai, kami langsung diajak untuk melihat proses pembuatan motor kustom dan
bereksperimen dalam tiap workshopnya. Memang dalam menciptakan sebuah mahakarya
tidaklah mudah. Ada hal mendasar yang perlu kita ketahui yaitu, alasan membuat
suatu mahakarya itu apa? Kalau hanya untuk sekadar iseng-isengan saja ya nggak
bakalan jadi. Ide-ide kreatif bisa bermunculan dari mana saja, kalau sudah
menemukan alasan yang jelas baru lah sebuah orisinalitas karya kita bisa
memberikan inspirasi bagi banyak orang.
Memang pembuatan sebuah mahakarya tidaklah mudah, harus melewati berbagai
macam tahapan. Perjumpaan sore itu berakhir, mas Lulut pun sebenarnya
memepersilahkan bagi kawan-kawan yang ingin kembali main-main ke sini, Monggo!
Setelah asik melihat-lihat dan ikut workshopnya, tak disangka motor-motor
besar seperti HD, Ducati Monster dan BSA sudah menunggu dan sudah siap
mengantarkan kami menuju destinasi selanjutnya, Candi Prambanan. Brmm, Brmm
mesin-mesin motor berderu dan meluncurlah.
Warisan Mahakarya
Mengunjungi warisan budaya dunia yang satu ini memang membuat kita bangga
menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Candi
ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah
satu candi terindah di Asia Tenggara. Tiba di kompleks candi siluet senja menyemburat
dari balik megahnya bangunan ini, dan sudah tahulah kami pun
berfoto-foto.
Sebenarnya aku tak ingin menjelaskan secara detil mengenai candi ini, tapi
yang pasti dengan adanya monumen besejarah ini telah memberikan banyak
inspirasi atas mahakarya yang telah tersaji berabad-abad lamanya.
Hmmm maghrib pun tiba, selasar candi prambanan menjadi area persembahan
hiburan bagi para pemenang JMI. Malam itu begitu indah, kami menikmati makan
malam ala keraton Yogyakarta, diiringi suguhan oleh Sheila On 7 dengan
backstage candi Prambanan. Terima kasih Tuhan Perjalanan hari ini telah usai.
Dan sebuah mahakarya adalah hasil olah daya rasa, cipta, dan karsa, maka
berbanggalah nikmatilah dan cintailah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar