Seperti hari yang terulang pada tiap pekannya, buku-buku tergeletak
di meja, menunggu sang pemilik rumah membaca. Sore itu di antara
belarak-belarak pohon kelapa mataku tersudut mengarah ke sana. Membaca sebuah
cerita yang ditulis oleh wanita perupa. Perupa yang piawai mengolah kata-kata
manja. Kata-kata yang bisa berirama bersama senja. Kata yang mengalun pelan
membuat kebisingan jadi ketenangan. Kata yang berjingkrak Kata-kata yang
sempat kiranya Tuhan selalu mengulang
bahagia.
Alangkah bahagia membaca karyanya. Namun pada suatu senja ia
berhenti merupa kata-kata manja. Dan kini yang terlontar adalah racauan
umpatan malam layaknya seekor anjing yang melolong kesepian. Dalam benak yang
terbelalak tiba-tiba saja aku tersadar, umpatan besar yang menyasar semuanya
itu seperti tak berdasar buatku. Tapi bagaimana mungkin aku kini bisa menikmati
sajian kata yang rupawan dan menyegarkan. Sedangkan wanita perupa itu kini
merana dan berkelana mencari bejana yang dicinta. Bejana tempat ia bisa
mengaduk , memutar, meracik, meramu tiap kata dan membuat semua hal yang
dicita-citakan olehnya terasa begitu sempurna.
Kini kamarnya gelap, padahal dulu aku sering membantunya mengisi
minyak petromak untuk penerang kala malam. Selain itu ia juga tak lupa
membawakanku sebungkus canda yang membuatku tertawa. Aku pun tak pernah lupa
memperbaiki dan mengganti lampu patromak itu jika sudah mulai meredup dan
kembali memompanya agar terang menyala. Senyum pun menyemburat dari balik
kerudungnya yang coklat. Lalu aku diam sejenak dan kulihat hanya senyumnya
memenuhi jagat.
Kalau kamarmu gelap dan lembap udara menganggang angin mati. Kalau
jendelamu sempit dan bulat dirimu terpanggang, kecewa pun menjadi. Kamu tidak
bisa merupa lagi. Jika kamu terhalangi dinding tinggi, langkah terhambat pandangan
terumpat, kalau pintumu hitam dan berat. Dendam di darahmu akan merambat bersama
saraf-saraf. Dan kamu tidak dapat merupa kembali. Bagaimana pun juga jangan
sungkan untuk memanggilku saat kamu butuh bantuanku. Aku pun tak akan menolak
saat kamu hanya menyuguhkanku segelas teh tawar hangat. Terima kasih banyak.
Meskipun pernah sempat sengit berdebat, maaf itu selalu akan
terucap dari mulutku dan mulutnya. Lalu aku pergi meninggalkannya menemui
gunung-gunung tinggi dan jurang curam yang kurang kaki sambil berusaha membawa
senja dan doa. Namun jalan yang Tuhanmu tunjukkan itu sulit, kamu pun juga
merasakan sakit, aku jadi tersuruk sendu, membisu.
Dengan pandangan sayu, hampa, dusta dan mengakak tertawa, coba kamu
kembali merupa! Coba susun kembali setiap tumpukan kata yang berserakan tak
beraturan. Kamu ukir, kamu kikir dan kamu ampelas setiap sudutnya agar dapat
dibaca dengan halus. Melembutkan kala kamu berduka, mendamaikan saat kebisingan
lalu mengobati saat tersakiti. Dan aku akan tulus merasakan, merawat apa yang
telah dituliskan. Membacanya, memaknai setiap baitnya, menganalisis setiap
kesalahan lalu menjadikannya sebuah bahan pelajaran dan renungan. Aku juga
tidak akan lupa memberikan sampul pada tiap jilidnya. Menaruhnya pada rak buku.
Mungkin suatu saat kita akan membacanya bersama dengan secangkir kopi, teh maupun senja.
*ibn
Di ruang temu ditemani Naif, 23/05/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar