Jumat, 24 Mei 2013

Ketika Kamarmu Gelap Lagi



Seperti hari yang terulang pada tiap pekannya, buku-buku tergeletak di meja, menunggu sang pemilik rumah membaca. Sore itu di antara belarak-belarak pohon kelapa mataku tersudut mengarah ke sana. Membaca sebuah cerita yang ditulis oleh wanita perupa. Perupa yang piawai mengolah kata-kata manja. Kata-kata yang bisa berirama bersama senja. Kata yang mengalun pelan membuat kebisingan jadi ketenangan. Kata yang berjingkrak Kata-kata yang sempat kiranya Tuhan selalu mengulang bahagia.

Alangkah bahagia membaca karyanya. Namun pada suatu senja ia berhenti merupa kata-kata manja. Dan kini yang terlontar adalah racauan umpatan malam layaknya seekor anjing yang melolong kesepian. Dalam benak yang terbelalak tiba-tiba saja aku tersadar, umpatan besar yang menyasar semuanya itu seperti tak berdasar buatku. Tapi bagaimana mungkin aku kini bisa menikmati sajian kata yang rupawan dan menyegarkan. Sedangkan wanita perupa itu kini merana dan berkelana mencari bejana yang dicinta. Bejana tempat ia bisa mengaduk , memutar, meracik, meramu tiap kata dan membuat semua hal yang dicita-citakan olehnya terasa begitu sempurna.

Kini kamarnya gelap, padahal dulu aku sering membantunya mengisi minyak petromak untuk penerang kala malam. Selain itu ia juga tak lupa membawakanku sebungkus canda yang membuatku tertawa. Aku pun tak pernah lupa memperbaiki dan mengganti lampu patromak itu jika sudah mulai meredup dan kembali memompanya agar terang menyala. Senyum pun menyemburat dari balik kerudungnya yang coklat. Lalu aku diam sejenak dan kulihat hanya senyumnya memenuhi jagat.

Kalau kamarmu gelap dan lembap udara menganggang angin mati. Kalau jendelamu sempit dan bulat dirimu terpanggang, kecewa pun menjadi. Kamu tidak bisa merupa lagi. Jika kamu terhalangi dinding tinggi, langkah terhambat pandangan terumpat, kalau pintumu hitam dan berat. Dendam di darahmu akan merambat bersama saraf-saraf. Dan kamu tidak dapat merupa kembali. Bagaimana pun juga jangan sungkan untuk memanggilku saat kamu butuh bantuanku. Aku pun tak akan menolak saat kamu hanya menyuguhkanku segelas teh tawar hangat. Terima kasih banyak.

Meskipun pernah sempat sengit berdebat, maaf itu selalu akan terucap dari mulutku dan mulutnya. Lalu aku pergi meninggalkannya menemui gunung-gunung tinggi dan jurang curam yang kurang kaki sambil berusaha membawa senja dan doa. Namun jalan yang Tuhanmu tunjukkan itu sulit, kamu pun juga merasakan sakit, aku jadi tersuruk sendu, membisu.  

Dengan pandangan sayu, hampa, dusta dan mengakak tertawa, coba kamu kembali merupa! Coba susun kembali setiap tumpukan kata yang berserakan tak beraturan. Kamu ukir, kamu kikir dan kamu ampelas setiap sudutnya agar dapat dibaca dengan halus. Melembutkan kala kamu berduka, mendamaikan saat kebisingan lalu mengobati saat tersakiti. Dan aku akan tulus merasakan, merawat apa yang telah dituliskan. Membacanya, memaknai setiap baitnya, menganalisis setiap kesalahan lalu menjadikannya sebuah bahan pelajaran dan renungan. Aku juga tidak akan lupa memberikan sampul pada tiap jilidnya. Menaruhnya pada rak buku. Mungkin suatu saat kita akan membacanya bersama dengan secangkir kopi, teh  maupun senja.




*ibn

Di ruang temu ditemani Naif, 23/05/13  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar