Aku tak menyangka bahwa hari ini kamu hampir lupa. Setengah lima
sore aku masih menunggu di stasiun itu sambil membaca koran petang. Meskipun harian
Sinar sudah jarang aku temukan. Tapi kali ini tak sengaja aku bertemu penjualnya
yang sudah lama wara-wiri di seputaran peron. Penjual Koran itu menawarkan
barang dagangannya pada tiap calon penumpang kereta. Raut muka kusam, daki,
keringat dan baju kumal menyertai langkahnya. Aku juga sudah mulai kumal
pikirku, lalu langkahmu sekarang di mana?.
Kamu masih belum juga datang, 10 menit lagi kereta akan
tiba. Aku menunggumu dengan harap cemas karena telah lelah sehari kita bekerja.
Deru mesin mobil, klakson sepeda motor, makian tukang gorengan, obral tukang
sayuran jadi sahabat-sahabat setia. Sini, kemari, ayo cepat kereta akan segera
tiba dan memanggil-manggil kita untuk memasuki gerbong-gerbongnya. Kereta itu
akan mengantarkan kita ke rumah. Mengantarkan tiap penumpangnya pulang ke
peraduannya. Kamu pun berlari. Aku sudah sejam menunggmu tanpa pasti. Aku tahu
kamu akan menepati janji.
Aku masih menunggu, mengharap cemas karena kereta akan
segera tiba. Kita berjanji akan menaikinya bersama, dalam kumpulan aroma keringat
manusia sehabis kerja, dalam reak ludah yang menjelma udara, dalam sempit dan
kita terhimpit di pojok gerbong yang melaju. Kamu bilang kamu senang berjubel
bersama para penumpang. Sambil membuka jendela kamu hirup nafas sesak ibukota. Polusi
tangis tawa tunawisma menjadi syair berirama. Katanya kamu suka mendengarnya. Aku
sih senang-senang saja asal kita tetap bersama.
Kita akan menikmati senja bersama dalam kereta pada
hiruk-pikuk ibukota
*ibn
Ditemani Sore di ruang Temu 29/05/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar