Kamis, 30 Mei 2013

Kereta Ibukota


Aku tak menyangka bahwa hari ini kamu hampir lupa. Setengah lima sore aku masih menunggu di stasiun itu sambil membaca koran petang. Meskipun harian Sinar sudah jarang aku temukan. Tapi kali ini tak sengaja aku bertemu penjualnya yang sudah lama wara-wiri di seputaran peron. Penjual Koran itu menawarkan barang dagangannya pada tiap calon penumpang kereta. Raut muka kusam, daki, keringat dan baju kumal menyertai langkahnya. Aku juga sudah mulai kumal pikirku, lalu langkahmu sekarang di mana?.

Kamu masih belum juga datang, 10 menit lagi kereta akan tiba. Aku menunggumu dengan harap cemas karena telah lelah sehari kita bekerja. Deru mesin mobil, klakson sepeda motor, makian tukang gorengan, obral tukang sayuran jadi sahabat-sahabat setia. Sini, kemari, ayo cepat kereta akan segera tiba dan memanggil-manggil kita untuk memasuki gerbong-gerbongnya. Kereta itu akan mengantarkan kita ke rumah. Mengantarkan tiap penumpangnya pulang ke peraduannya. Kamu pun berlari. Aku sudah sejam menunggmu tanpa pasti. Aku tahu kamu akan menepati janji.

Aku masih menunggu, mengharap cemas karena kereta akan segera tiba. Kita berjanji akan menaikinya bersama, dalam kumpulan aroma keringat manusia sehabis kerja, dalam reak ludah yang menjelma udara, dalam sempit dan kita terhimpit di pojok gerbong yang melaju. Kamu bilang kamu senang berjubel bersama para penumpang. Sambil membuka jendela kamu hirup nafas sesak ibukota. Polusi tangis tawa tunawisma menjadi syair berirama. Katanya kamu suka mendengarnya. Aku sih senang-senang saja asal kita tetap bersama.

Kita akan menikmati senja bersama dalam kereta pada hiruk-pikuk ibukota


*ibn
Ditemani Sore di ruang Temu 29/05/13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar