Pukul satu dini hari aku berselimut dingin, melihat jarum
jam berpacu di antara sepi sunyi. Pukul satu dini hari jalan depan rumah begitu
lengang, alunan lagu dan bisik jangrik selalu siap menemaniku ke peraduan. Ibu
belum kunjung pulang sedangkan ayah sudah pulang dan tenang di pusara sana.
Tinggal aku saja, dan lagu pemecah sunyi.
Setengah dua dini hari, sisa hujan hari ni, bau tanah, bau
dedaunan, asap tembakau dan kopi. Berkelebat bayangmu di antara aksara,
mengomposisi lalu memilah-milih diksi. Satu kata, merangkai kalimat menyusun paragraf.
Kamu memang selalu berbuat begitu, tak pernah bosan menciptakan suatu kisah.
Pukul dua dini hari jalan-jalan makin mati, yang tersendiri
hanya ragaku kini. Gelisah hati, tiada pilihan lagi, aku masih mencari.
Dengkuran Om Iyung sesekali terdengar, dia begitu khidmat menikmati istirahat
dalam malam temaram dan tenteram tak ada kokok ayam.
Pukul setengah tiga dini hari menggigil tangan dan hati,
kuat-kuat ku merengkuh imaji. Menggapai bayangmu yang terlihat dengan nyata
pagi ini di tengah kemacetan. Kerudung biru yang kau kenakan itu menyejukan
pandangan bak oase di tengah kekeringan. Seperti sebuah ketabahan hujan bulan
juni kemarin, dan terulang lagi pada bulan juli ini.
Pukul tiga dini hari 1/3 waktu malam yang utama. Dengan nama
Tuhan aku memohon ampunan, meminta kamu menyatu dengan ikatan dan pelukan.
Meski hanya sebuah ucapan, tapi itulah harapan satu dari empat kebahagiaan.
Tiada lagi pilihan karena hidup adalah kewajiban, tiada lagi, tiada…
*Ibn
Di ruang temu, di temani putaran berulang Ballerina~Antara Jiwa, 04/07/13
Di ruang temu, di temani putaran berulang Ballerina~Antara Jiwa, 04/07/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar