Alif dalam ketidaktahuan, Lam dalam ketidakberdayaan, Mim dalam
kesetiaan dan Shad dalam kesabaran. Ini mungkin tafsir tak berdasar yang aku
buat. Dinukil dari salah satu ayat yang mutasyabihat dan sepertinya aku
mencoba menjadikannya seperti ayat yang muhkamat. Mengapa begitu,
mungkin karena kamu yang masih setia memberikan tanda tanya. Para ulama tafsir
mengatakan huruf Alif, Lam, Mim, Shad adalah hanya Tuhan yang mengetahui
artinya dan manusia hanya bisa mengimaninya saja.
Seperti hatiku yang mengimani kerinduan ini padamu, pada kerinduan
rintik hujan senja itu, dalam keramahan Ramadhan. Kamu di sudut rumah teduh
menunggu maghrib gaduh untuk menyudahi puasamu. Sementara aku terseok dengan
peluh mencari-cari senyumanmu yang terselip pada senja kelabu.
Tuhan yang Maha Tahu, terimalah guratan surat ini dan berilah pemahaman
baru bahwa hidup ini asu dan aku harus keras dan sedingin batu. Tapi apakah
harus seperti itu? Aku memerlukan air yang bisa memenuhi ceruk di lubuk batu
lalu bening mengendap menghapuskan segala jelaga.
Alif, Lam, Mim, Shad semuanya menyatu dalam ketidaktahuan dan
kerinduan. Rintik hujan senja itu mengantarkanku kepada sebuah kepasrahan
memang hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. Seperti nukilan puisi dari Ajip Rosidi. “Kita yang beriman
menerima rahasia sebagai rahasia dalam keterbatasan untuk tahu dan mengerti…”
*Ibn
NOBOX, , Bossa 12/07/13
NOBOX, , Bossa 12/07/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar