Jumat, 12 Juli 2013

Alif Lam Mim Shad



Alif dalam ketidaktahuan, Lam dalam ketidakberdayaan, Mim dalam kesetiaan dan Shad dalam kesabaran. Ini mungkin tafsir tak berdasar yang aku buat. Dinukil dari salah satu ayat yang mutasyabihat dan sepertinya aku mencoba menjadikannya seperti ayat yang muhkamat. Mengapa begitu, mungkin karena kamu yang masih setia memberikan tanda tanya. Para ulama tafsir mengatakan huruf Alif, Lam, Mim, Shad adalah hanya Tuhan yang mengetahui artinya dan manusia hanya bisa mengimaninya saja. 
 
Seperti hatiku yang mengimani kerinduan ini padamu, pada kerinduan rintik hujan senja itu, dalam keramahan Ramadhan. Kamu di sudut rumah teduh menunggu maghrib gaduh untuk menyudahi puasamu. Sementara aku terseok dengan peluh mencari-cari senyumanmu yang terselip pada senja kelabu.

Tuhan yang Maha Tahu, terimalah guratan surat ini dan berilah pemahaman baru bahwa hidup ini asu dan aku harus keras dan sedingin batu. Tapi apakah harus seperti itu? Aku memerlukan air yang bisa memenuhi ceruk di lubuk batu lalu bening mengendap menghapuskan segala jelaga.

Alif, Lam, Mim, Shad semuanya menyatu dalam ketidaktahuan dan kerinduan. Rintik hujan senja itu mengantarkanku kepada sebuah kepasrahan memang hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. Seperti nukilan  puisi dari Ajip Rosidi. “Kita yang beriman menerima rahasia sebagai rahasia dalam keterbatasan untuk tahu dan mengerti…”



*Ibn
NOBOX, , Bossa 12/07/13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar