Kamis, 20 Juni 2013

Kini Aku Punya Tempat



Tak Tahu tempatku di mana

Melihat para pemimpin berlomba menyanjung
agar kehidupannya aman dan hidupnya terlindung 

Tak tahu tempatku di mana 

Menyaksikan kaum cendikiawan berlomba memuji
mengeluarkan dalil-dalil ilmu cari selamat sendiri

Tak tahu tempatku di  mana 

Menyimak kaum alim ulama bersaing meburu pangkat
tak ingat akan tanggungjawabnya terhadap umat

Tak tahu tempatku di mana

Mendengar para budayawan berlomba menjilat
agar mendapat restu dan tempat terhormat

Tak tahu tempatku di mana

Tak tahu tempatku di mana
 
***

Sudah bisa aku pastikan aku tidak akan mau memilih siapapun yang ikut dalam panggung demokrasi di negeri ini. Racauan keluhanku ini tak pernah bisa mereka mengerti bahkan sepertinya orang lainpun juga mengalami hal demikian. Aku, Ibu dan hanya Tuhanku Yang Maha Mengetahui. Aku memaki pada mereka yang telah mengambil hak-hak masyarakat untuk menikmati kehidupan layak, tenang dan tenteram. 

Bagaimana dengan nasib mereka yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak, pemulung dan pedagang asongan, jarang sekali mereka bisa menikmati bensin. Belum lagi rencana pemerintah menaikkan cukai tembakau. Aku bisa membayangkan orang kecil seperti mereka akan sulit mendapat hiburan. Ya hiburan, hiburan sederhana yang selalu bisa menenangkan pikiran mereka dengan cara menghela tiap tarikan asap tembakau yang mereka hisap. Aku merasakan betul tiap tarikan napas dan helaan mereka, keluhan mereka tentang pemerintah yang zalim.

Ironi anak negeri memang, aku tak mau panjang lebar menjelaskan tentang data berapa banyak uang kita telah diambil oleh mereka yang selalu menzalimi umatnya. Pastinya aku sudah tak mau memercayai mereka lagi. Kini hanya ibu dan Tuhanku yang bisa memahami segala ikhtiar dan keluhan-keluhan yang aku rasakan. Meskipun aku merasa “Tak Tahu tempatku di mana” tapi aku masih bisa bernaung pada  ibu dan Tuhanku yang setia menerima segala keluh kesalku.


Catatan:
Puisi di atas tadi dinukil dari antologi puisi Ajip Rosidi dalam bukunya “Terkenang Topeng Cirebon”. Puisi-pusi Ajip memang selalu membuat pikiranku wara-wiri sebagai seorang subjek sekaligus objek dalam masyarakat. Pergulatan hidup, masalah ekonomi, pemerintah busuk serta perkenalanku dengan puan dan Tuhan.



*ibn
Di ruang temu dengan Dream Theater 19/06/13


Tidak ada komentar:

Posting Komentar