Tak Tahu tempatku di mana
Melihat para pemimpin berlomba menyanjung
agar kehidupannya aman dan hidupnya terlindung
agar kehidupannya aman dan hidupnya terlindung
Tak tahu tempatku di mana
Menyaksikan kaum cendikiawan berlomba memuji
mengeluarkan dalil-dalil ilmu cari selamat sendiri
Tak tahu tempatku di mana
mengeluarkan dalil-dalil ilmu cari selamat sendiri
Tak tahu tempatku di mana
Menyimak kaum alim ulama bersaing meburu pangkat
tak ingat akan tanggungjawabnya terhadap umat
tak ingat akan tanggungjawabnya terhadap umat
Tak tahu tempatku di mana
Mendengar para budayawan berlomba menjilat
agar mendapat restu dan tempat terhormat
agar mendapat restu dan tempat terhormat
Tak tahu tempatku di mana
Tak tahu tempatku di mana
***
Sudah bisa aku pastikan aku tidak akan mau memilih siapapun yang
ikut dalam panggung demokrasi di negeri ini. Racauan keluhanku ini tak pernah
bisa mereka mengerti bahkan sepertinya orang lainpun juga mengalami hal
demikian. Aku, Ibu dan hanya Tuhanku Yang Maha Mengetahui. Aku memaki pada
mereka yang telah mengambil hak-hak masyarakat untuk menikmati kehidupan layak,
tenang dan tenteram.
Bagaimana dengan nasib mereka yang sehari-hari bekerja
sebagai tukang becak, pemulung dan pedagang asongan, jarang sekali mereka bisa
menikmati bensin. Belum lagi rencana pemerintah menaikkan cukai tembakau. Aku
bisa membayangkan orang kecil seperti mereka akan sulit mendapat hiburan. Ya
hiburan, hiburan sederhana yang selalu bisa menenangkan pikiran mereka dengan
cara menghela tiap tarikan asap tembakau yang mereka hisap. Aku merasakan betul
tiap tarikan napas dan helaan mereka, keluhan mereka tentang pemerintah yang
zalim.
Ironi anak negeri memang, aku tak mau panjang lebar
menjelaskan tentang data berapa banyak uang kita telah diambil oleh mereka yang
selalu menzalimi umatnya. Pastinya aku sudah tak mau memercayai mereka lagi.
Kini hanya ibu dan Tuhanku yang bisa memahami segala ikhtiar dan
keluhan-keluhan yang aku rasakan. Meskipun aku merasa “Tak Tahu tempatku di
mana” tapi aku masih bisa bernaung pada ibu dan Tuhanku yang setia menerima segala
keluh kesalku.
Catatan:
Puisi di atas tadi dinukil dari antologi puisi Ajip Rosidi
dalam bukunya “Terkenang Topeng Cirebon”. Puisi-pusi Ajip memang selalu membuat
pikiranku wara-wiri sebagai seorang subjek sekaligus objek dalam masyarakat. Pergulatan
hidup, masalah ekonomi, pemerintah busuk serta perkenalanku dengan puan dan Tuhan.
*ibn
Di ruang temu dengan Dream Theater 19/06/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar