Pesona pulau ini bukan hanya pada gili dan pantainya saja. Jangan
lupa Lombok juga memiliki gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia yang siap
memacu adrenalin para pendakinya yaitu Rinjani. Dengan ketinggian 3.726m dpl
pendakian gunung Rinjani memberikan suguhan pemandangan alam nan cantik. Gunung
Rinjani juga menjadi destinasi yang wajib dikunjungi jika anda hobi melakukan
pendakian.
Beberapa penghargaan pernah disematkan pada gunung ini, karena
keberhasilan pengelolaan pariwisatanya. Gunung Rinjani telah memperoleh tiga
penghargaan internasional yakni "World Legacy Award" untuk
kategori "Destination Stewardship" dari "Conservation
International and National Geographic Traveler" pada tahun 2004,
finalis "Tourism for Tomorrow Award" masing-masing tahun 2005
dan 2008.
Nah, aku beruntung sekali pernah menginjakkan kaki di puncaknya. Perjalanan
ini memang tak lepas dari keberuntunganku sebagai salah satu peserta Jelajah Mahakarya Indonesia pada 29 april-4
Mei. Trip kali ini juga adalah lanjutan petualanganku dari Yogyakarta bersama 35 teman lainnya dari
berbagai daerah di Indonesia. Setelah sempat menyaksikan mahakarya buatan
manusia yaitu mengunjungi komunitas pecinta motor kustom (Retro Classic Cycle) dan Candi Prambanan. Trip
ke Lombok adalah kunjungan kami menikmati Mahakarya buatan Tuhan.
Pendakian Ala Bintang Lima
Bermodalkan dengkul dan fasilitas yang telah disediakan oleh panitia,
aku merasa pendakian kali ini sangat elit dan berbeda dari sebelumnya. Padahal biasanya
aku melakukan pendakian bersama teman dengan segala persiapan yang tak bisa
sembarangan. Mulai dari perlengkapan hiking yang masih suka pinjam sana-sini
sampai kocek tiap pendakian pastinya pas-pasan. Tapi semua itu memberikan
pengalaman yang tak tergantikan.
Hahaha jadi sedikit curhat. Ok, lanjut aku ceritakan lagi tentang
Rinjani.
Pendakian kali ini memakan waktu cukup singkat hanya dua hari satu
malam. Padahal dari informasi yang aku cari biasanya para pendaki melakukan
perjalananya bisa mencapai tiga hari dua malam. Wow hebat seperti para porter
di sana. Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Mataram. Setelah selesai
makan siang di Sheraton Lounge, kami langsung dijemput oleh mini bus ber-Ac
yang terbagi menjadi lima kelompok termasuk panitia. Ternyata panitia sangat
memikirkan kenyamanan para peserta saat suhu udara di Mataram terbilang cukup
panas.
Pada kesempatan kali ini kami berjalan menuju Sembalun. Masih ada
dua jalur pendakian lainnya yaitu Senaru dan Torean. Perjalanan yang memakan
waktu kurang lebih 3 jam cukup menyita perhatian. Di sepanjang jalan terhampar
persawahan dan perkebunan yang dinaungi hijaunya perbukitan. Meskipun begitu
nyaman, tetap saja ada saja hambatan mengahadang. Rombongan bus kelompok 5
mengalami pecah ban.
Lalu kami istirahat sejenak menikmati perbukitan cemarasiu.
Sedikit teringat dengan Cemorosewu (Tawangmangu)! Lembah Sembalun pun terlihat
dari kejauhan. Angin dingin sudah menjamah tulang saat senja mulai tiba. Setelah
setengah jam istirahat dan perbaikan, kami pun kembali bergegas menuju desa
Sembalun.
Singkat cerita menjelang maghrib kami pun tiba di sebuah resort
ternama di sana. Ternyata seperti di karantina, kami tidak menginap di dalam rumah-rumahnya
tapi panitia menyiapkan tenda untuk istirahat. Walaupun begitu kami semua
merasa seperti raja, karena malam harinya disuguhi sajian istemewa khas Lombok.
Usai waktu isya, seluruh peserta dan panitia melakukan briefing
persiapan pendakian dan pembagian kelompok untuk esok harinya.
briefing di desa Sembalun
Pagi harinya usai sarapan, kami langsung berkemas mendaki. Sesuai hasil
briefing semalam, kami langsung diantar dengan mobil offroad agar
menghemat waktu pendakian satu jam. Perjalanan pendakian dimulai, suguhan
pemandangan bukit sabana memanjakan mata, selain di kanan-kiri terdapat ladang warga.
Kami pun diantar hingga jalur akhir yang tidak bisa dilalui mobil dan hanya
jalan setapak menganga diantara sabana.
Pak Agus, driver yang mengantarkan kelompok kami mengatakan,
meskipun trek melalui jalur ini sangat jauh, Namun jalur Sembalun cukup
digemari oleh pendaki. Pemandangan bukit sabana sangat mempesona memanjakan
mata. Jalur yang kami lalui cukup landai namun untuk mencapai pos 1 bisa
memakan waktu dua jam. Tapi bukan persoalan, tenaga kami masih cukup banyak,
disamping itu pula barang-barang yang berat bisa dititipkan ke porter. Aku pun hanya
membawa daypack dan air minum seadanya. Ringan dan santai.
Jalur Sembalun
Menjelang siang, sinar matahari semakin menyengat, panasnya cukup
membakar, dan semua peserta mulai tampak kelelahan. Tapi entah apa yang ada di
benak, melihat para porter itu begitu kuat. Aku masih tak menyangka, dengan
membawa beban banyak dan hanya beralaskan sandal jepit mereka masih sigap
melangkah. Dan aku mulai kelelahan.
Untung saja terdapat refreshment yang disediakan pada tiap
pos peristirahatan. Tenaga kami pun pulih kembali berkat para porter yang telah
menyiapkan itu semua. Tidak seperti
gunung-gunung yang penah aku daki sebelumnya karena sepanjang perjlanan aku tak
menemukan sumber-sumber air. Seandainya saja tidak ada porter apa jadinya?
Porter
Cukup berat perjalanan kali ini memang, tapi makan siang di pos 3
memberikan nuansa istimewa, sajian makanan penuh gizi. Nggak usah repot-repot
seperti pendakian sebelumnya, sekarang tinggal santap saja. Pastinya tenaga kami terisi kembali. Setelah istirahat
siang, tujuh Bukit Penyesalan sudah menanti.
Tujuh Bukit Penyesalan
Hahaha benar saja baru satu jam perjalanan dari Pos 3 Padalobang,
sebagian besar peserta sudah menampakkan raut kelelahan. Mengapa dinamakan
bukit penyesalan? Karena para pendaki sebelum menuju puncak rinjani harus
melewati bukit ini. Bukit yang menyiksa, semuanya tanjakan hebat, modal dengkul
saja belum cukup jika mental ini tak kuat.
Tanjakan demi tanjakan yang seolah-olah tiada akhirnya menyiratkan
kami untuk tidak melanjutkan pendakian. Meski beban di badan cukup ringan tapi
tetap saja bukit ini akan memberikan rasa penyesalan karena telah membuat
keputusan untuk mendaki Rinjani. Ditambah lagi sengatan matahari membuat tubuh
kami cepat dehidrasi.
Bukit penyesalan :'(
Jadi jangan heran jika banyak pendaki yang mengeluh usai melewati
bukit penyesalan. Nyesel deh loe! Tapi bukit penyesalan ini tidak menyurutkan
langkah kami melanjutkan perjalanan. Beranjak sore matahari sudah mulai
bergeser dan kabut pun mulai turun. Hawa pegunungan mulai sejuk dinaungi
cemara-cemaa gunung. Langkah kami pun semakin pejal.
Sekitar empat jam berjalan, kami pun sampai di Pelawangan Sembalun
pada ketinggian 2.700-an mdpl. Tenda-tenda peserta sudah berdiri disana dan
sajian minuman hangat juga siap tersedia begitu juga toilet portabel, jadi
tidak perlu repot-repot lagi. :D
Cuaca di Pelawangan Sembalun mulai mendung dan berkabut. Segara
Anak nampak dari pos terakhir ini sebelum menuju puncak Anjani. Sambil menunggu
kawan lain yang belum tiba, kopi, teh, dan rokok menjadi penghangat melepas
lelah setelah tidak menyerah dari bukit penyesalan yang gagah.
Bersantai di Pelawangan Sembalun sambil gitar-gitaran :)
Puncak Anjani
Pukul 01.00 dini hari semua peserta dibangunkan untuk summit
attack. Sementara bagi yang tidak bisa melanjutkan perjalanannya tidur
pulas di tenda, beberapa panitia juga berjaga-jaga. Karena dalam perjalanan
menuju puncak bukanlah paksaan.
Udara dini hari menusuk tulang, belum lagi trek menuju puncak
didominasi oleh tanjakan berbatu dan berpasir. Bekal selama perjalanan kembali
panitia persiapkan. Dokter-dokter tangguh pun siap menemani selama perjalanan. Jam
menunjukkan pukul 01.30 WIT, semua peserta bersiap, teriring doa semoga selamat
sampai puncak sana!
Ada hal yang masih menggelayuti pikiran, dari informasi yang
didapat, beberapa pendaki pernah berjumpa
penampakan Dewi Anjani disana. Dewi anjani? Aku bertanya-tanya dalam pikiran Sempat
teringat gunung-gunung yang pernah aku daki memang memiliki mitos-mitos
tersendiri. Tiba-tiba saja perasaan mistik itu menjelma waspada.
Perjalanan menuju puncak memakan waktu selama lima jam. Jalur curam,
sisi kiri jurang dan sisi kanan adalah kaldera menganga siap menelan apapun yang jatuh kebawahnya. Aku
pun semakin waspada bersama kawan lainnya. Suhu pada jam tangan menunjukkan 8ºC
saat pukul 05.00 WIT pagi di ketinggian 3.400mdpl, langkah kami melambat karena trek
yang dilalui semakin menanjak dan berpasir. Belum lagi angin bertiup dari arah kiri bisa saja mengantarkan
kaami ke sisi kaldera yang menganga disana.
Jam 06.00 WIT sang surya mulai menampakkan sinar jingganya. Puncak Anjani
terlihat sangat dekat dari kejauhan. Namun ketika berusaha mendekat terasa
semakin menjauh karena kaki ini terasa beku karena termometer menujukkan suhu 6º
C pada ketinggian 3.600 mdpl. Sebagian peserta sudah ada yang sampai di puncak.
Aku pun duduk sejenak menikmati surya yang mencoba menawarkan kehangatan.
Sempat terpikir untuk menyudahi perjalanan namun seorang kawan
memberikan perlawanan, Ayo kapan lagi lo bisa nyampe puncak ini kalau bukan
sekarang! Semangatku kembali muncul, dihangatkan juga oleh sang surya. Akhirnya
pukul 07.00 WIT aku sampai juga di puncak dan teman-teman peserta lainnya
menyambut di sana.
Aku mulai dengan rasa syukur, akhirnya aku menginjakkan kaki di
atap pulau Lombok yang merupakan titik kedua tertinggi gunung berapi di
Indonesia. Nampak dari pucak, pulau Lombok yang luas terbentang. Danau Segara
Anak yang terpapar semburat surya pagi semakin mempesona diri dan dengan gagahnya
gunung Baru Jari tumbuh berdiri.
Kami menikmati keindahan dengan mengabadikannya bersama. Momen yang
sangat berharga dan akan sulit terulang. Kami tak bisa berlama-lama, meski
belum puas dan tak akan pernah puas. Waktu jua yang memaksa kami menyudahi
karena harus kembali ke camp Pelawangan Sembalun.
Meskipun Segara Anak tidak menjadi destinasi, kepuasan mendaki
puncak Rinjani sudah menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Perjalanan turun kami
pun cukup stabil dan lebih cepat di bandingkan saat pendakian. Sampai di
Pelawangan Sembalun waktunya isi perut dan lanjut menuruni bukit penyesalan. Sama
seperti saat pendakian kembali lagi pada tiap pos peristirahatan terdapat refreshment.
Jadi yang diperlukan adalah mempercepat langkah saat seluruh fisik
ini telah lelah. Tetapi jiwa ini tidak
akan pernah lelah menjelajah dan mensyukuri segala nikmat-Nya.
Itulah sejumput kisah, perjalanan ini tak akan pernah sudah. karena
kami hanya titik-titik jiwa yang berdiri diatas bumi yang berotasi. Tiada yang
lebih berarti dari saat kini yang akan segera lepas hanya jadi mimpi. Terima
kasih Tuhan, segala harapan harus menjelma
perjuangan dan itu suatu keniscayaan...
Salam sayang, salam pendakian :)
*ibn
Ruang temu, bersama Sore dalam album No Fruits For Todays 21/05/13



kereennn.. :D
BalasHapusbtw, font nya kurang gede tuh :)
ihh udah cukup gede sih fontnya... thx udah mau membaca :D
Hapusmngkn penglihatan gw aja yg kurang.. hehe
Hapussama2 bang :)