Rabu, 22 Mei 2013

Balada Pendakian ke Puncak Anjani


Sudah dua minggu lebih aku belum sempat juga untuk menuliskan kisah perjalanan eksotisku di Pulau Lombok. Ya Lombok, pulau ini sekarang menjadi salah satu destinasi wisata paling dicari selain Bali. Keindahan alamnya, panorama pantai pada tiap-tiap gili (pulau kecil) memberikan sensasi yang tak kalah dari pulau di sebelahnya (Bali). Begitu banyak agen travel yang menawarkan beragam paket liburan dan penginapan di setiap gili yang ada.

Pesona pulau ini bukan hanya pada gili dan pantainya saja. Jangan lupa Lombok juga memiliki gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia yang siap memacu adrenalin para pendakinya yaitu Rinjani. Dengan ketinggian 3.726m dpl pendakian gunung Rinjani memberikan suguhan pemandangan alam nan cantik. Gunung Rinjani juga menjadi destinasi yang wajib dikunjungi jika anda hobi melakukan pendakian. 

Beberapa penghargaan pernah disematkan pada gunung ini, karena keberhasilan pengelolaan pariwisatanya. Gunung Rinjani telah memperoleh tiga penghargaan internasional yakni "World Legacy Award" untuk kategori "Destination Stewardship" dari "Conservation International and National Geographic Traveler" pada tahun 2004, finalis "Tourism for Tomorrow Award" masing-masing tahun 2005 dan 2008.

Nah, aku beruntung sekali pernah menginjakkan kaki di puncaknya. Perjalanan ini memang tak lepas dari keberuntunganku sebagai salah satu peserta  Jelajah Mahakarya Indonesia pada 29 april-4 Mei. Trip kali ini juga adalah lanjutan petualanganku  dari Yogyakarta bersama 35 teman lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah sempat menyaksikan mahakarya buatan manusia yaitu mengunjungi komunitas pecinta motor kustom  (Retro Classic Cycle) dan Candi Prambanan. Trip ke Lombok adalah kunjungan kami menikmati Mahakarya buatan Tuhan.

Pendakian Ala Bintang Lima

Bermodalkan dengkul dan fasilitas yang telah disediakan oleh panitia, aku merasa pendakian kali ini sangat elit dan berbeda dari sebelumnya. Padahal biasanya aku melakukan pendakian bersama teman dengan segala persiapan yang tak bisa sembarangan. Mulai dari perlengkapan hiking yang masih suka pinjam sana-sini sampai kocek tiap pendakian pastinya pas-pasan. Tapi semua itu memberikan pengalaman yang tak tergantikan.

Hahaha jadi sedikit curhat. Ok, lanjut aku ceritakan lagi tentang Rinjani.  

Pendakian kali ini memakan waktu cukup singkat hanya dua hari satu malam. Padahal dari informasi yang aku cari biasanya para pendaki melakukan perjalananya bisa mencapai tiga hari dua malam. Wow hebat seperti para porter di sana. Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Mataram. Setelah selesai makan siang di Sheraton Lounge, kami langsung dijemput oleh mini bus ber-Ac yang terbagi menjadi lima kelompok termasuk panitia. Ternyata panitia sangat memikirkan kenyamanan para peserta saat suhu udara di Mataram terbilang cukup panas.

 
Matahari terik di Bandara Internasional Mataram 
Pada kesempatan kali ini kami berjalan menuju Sembalun. Masih ada dua jalur pendakian lainnya yaitu Senaru dan Torean. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 3 jam cukup menyita perhatian. Di sepanjang jalan terhampar persawahan dan perkebunan yang dinaungi hijaunya perbukitan. Meskipun begitu nyaman, tetap saja ada saja hambatan mengahadang. Rombongan bus kelompok 5 mengalami pecah ban. 

Lalu kami istirahat sejenak menikmati perbukitan cemarasiu. Sedikit teringat dengan Cemorosewu (Tawangmangu)! Lembah Sembalun pun terlihat dari kejauhan. Angin dingin sudah menjamah tulang saat senja mulai tiba. Setelah setengah jam istirahat dan perbaikan, kami pun kembali bergegas menuju desa Sembalun. 

Singkat cerita menjelang maghrib kami pun tiba di sebuah resort ternama di sana. Ternyata seperti di karantina, kami tidak menginap di dalam rumah-rumahnya tapi panitia menyiapkan tenda untuk istirahat. Walaupun begitu kami semua merasa seperti raja, karena malam harinya disuguhi sajian istemewa khas Lombok. Usai waktu isya, seluruh peserta dan panitia melakukan briefing persiapan pendakian dan pembagian kelompok untuk esok harinya. 

 
 
 
briefing di desa Sembalun

Pagi harinya usai sarapan, kami langsung berkemas mendaki. Sesuai hasil briefing semalam, kami langsung diantar dengan mobil offroad agar menghemat waktu pendakian satu jam. Perjalanan pendakian dimulai, suguhan pemandangan bukit sabana memanjakan mata, selain di kanan-kiri terdapat ladang warga. Kami pun diantar hingga jalur akhir yang tidak bisa dilalui mobil dan hanya jalan setapak menganga diantara sabana.

Pak Agus, driver yang mengantarkan kelompok kami mengatakan, meskipun trek melalui jalur ini sangat jauh, Namun jalur Sembalun cukup digemari oleh pendaki. Pemandangan bukit sabana sangat mempesona memanjakan mata. Jalur yang kami lalui cukup landai namun untuk mencapai pos 1 bisa memakan waktu dua jam. Tapi bukan persoalan, tenaga kami masih cukup banyak, disamping itu pula barang-barang yang berat bisa dititipkan ke porter. Aku pun hanya membawa daypack dan air minum seadanya. Ringan dan santai. 


  Jalur Sembalun

Menjelang siang, sinar matahari semakin menyengat, panasnya cukup membakar, dan semua peserta mulai tampak kelelahan. Tapi entah apa yang ada di benak, melihat para porter itu begitu kuat. Aku masih tak menyangka, dengan membawa beban banyak dan hanya beralaskan sandal jepit mereka masih sigap melangkah. Dan aku mulai kelelahan. 

Untung saja terdapat refreshment yang disediakan pada tiap pos peristirahatan. Tenaga kami pun pulih kembali berkat para porter yang telah menyiapkan itu semua.  Tidak seperti gunung-gunung yang penah aku daki sebelumnya karena sepanjang perjlanan aku tak menemukan sumber-sumber air. Seandainya saja tidak ada porter apa jadinya?


 
Porter

Cukup berat perjalanan kali ini memang, tapi makan siang di pos 3 memberikan nuansa istimewa, sajian makanan penuh gizi. Nggak usah repot-repot seperti pendakian sebelumnya, sekarang tinggal santap saja. Pastinya tenaga kami terisi kembali. Setelah istirahat siang, tujuh Bukit Penyesalan sudah menanti. 

Tujuh Bukit Penyesalan

Hahaha benar saja baru satu jam perjalanan dari Pos 3 Padalobang, sebagian besar peserta sudah menampakkan raut kelelahan. Mengapa dinamakan bukit penyesalan? Karena para pendaki sebelum menuju puncak rinjani harus melewati bukit ini. Bukit yang menyiksa, semuanya tanjakan hebat, modal dengkul saja belum cukup jika mental ini tak kuat.

Tanjakan demi tanjakan yang seolah-olah tiada akhirnya menyiratkan kami untuk tidak melanjutkan pendakian. Meski beban di badan cukup ringan tapi tetap saja bukit ini akan memberikan rasa penyesalan karena telah membuat keputusan untuk mendaki Rinjani. Ditambah lagi sengatan matahari membuat tubuh kami cepat dehidrasi. 


Bukit penyesalan :'(

Jadi jangan heran jika banyak pendaki yang mengeluh usai melewati bukit penyesalan. Nyesel deh loe! Tapi bukit penyesalan ini tidak menyurutkan langkah kami melanjutkan perjalanan. Beranjak sore matahari sudah mulai bergeser dan kabut pun mulai turun. Hawa pegunungan mulai sejuk dinaungi cemara-cemaa gunung. Langkah kami pun semakin pejal.

Sekitar empat jam berjalan, kami pun sampai di Pelawangan Sembalun pada ketinggian 2.700-an mdpl. Tenda-tenda peserta sudah berdiri disana dan sajian minuman hangat juga siap tersedia begitu juga toilet portabel, jadi tidak perlu repot-repot lagi. :D 

Cuaca di Pelawangan Sembalun mulai mendung dan berkabut. Segara Anak nampak dari pos terakhir ini sebelum menuju puncak Anjani. Sambil menunggu kawan lain yang belum tiba, kopi, teh, dan rokok menjadi penghangat melepas lelah setelah tidak menyerah dari bukit penyesalan yang gagah.


Bersantai di Pelawangan Sembalun sambil gitar-gitaran :) 

Puncak Anjani

Pukul 01.00 dini hari semua peserta dibangunkan untuk summit attack. Sementara bagi yang tidak bisa melanjutkan perjalanannya tidur pulas di tenda, beberapa panitia juga berjaga-jaga. Karena dalam perjalanan menuju puncak bukanlah paksaan.

Udara dini hari menusuk tulang, belum lagi trek menuju puncak didominasi oleh tanjakan berbatu dan berpasir. Bekal selama perjalanan kembali panitia persiapkan. Dokter-dokter tangguh pun siap menemani selama perjalanan. Jam menunjukkan pukul 01.30 WIT, semua peserta bersiap, teriring doa semoga selamat sampai puncak sana!

Ada hal yang masih menggelayuti pikiran, dari informasi yang didapat, beberapa pendaki pernah  berjumpa penampakan Dewi Anjani disana. Dewi anjani? Aku bertanya-tanya dalam pikiran Sempat teringat gunung-gunung yang pernah aku daki memang memiliki mitos-mitos tersendiri. Tiba-tiba saja perasaan mistik itu menjelma waspada.

Perjalanan menuju puncak memakan waktu selama lima jam. Jalur curam, sisi kiri jurang dan sisi kanan adalah kaldera menganga  siap menelan apapun yang jatuh kebawahnya. Aku pun semakin waspada bersama kawan lainnya. Suhu pada jam tangan menunjukkan 8ºC saat pukul 05.00 WIT pagi di ketinggian 3.400mdpl, langkah kami melambat karena trek yang dilalui semakin menanjak dan berpasir. Belum lagi angin  bertiup dari arah kiri bisa saja mengantarkan kaami ke sisi kaldera yang menganga disana.

Jam 06.00 WIT sang surya mulai menampakkan sinar jingganya. Puncak Anjani terlihat sangat dekat dari kejauhan. Namun ketika berusaha mendekat terasa semakin menjauh karena kaki ini terasa beku karena termometer menujukkan suhu 6º C pada ketinggian 3.600 mdpl. Sebagian peserta sudah ada yang sampai di puncak. Aku pun duduk sejenak menikmati surya yang mencoba menawarkan kehangatan.

Sempat terpikir untuk menyudahi perjalanan namun seorang kawan memberikan perlawanan, Ayo kapan lagi lo bisa nyampe puncak ini kalau bukan sekarang! Semangatku kembali muncul, dihangatkan juga oleh sang surya. Akhirnya pukul 07.00 WIT aku sampai juga di puncak dan teman-teman peserta lainnya menyambut di sana.
Menuju Puncak Anjani

Aku mulai dengan rasa syukur, akhirnya aku menginjakkan kaki di atap pulau Lombok yang merupakan titik kedua tertinggi gunung berapi di Indonesia. Nampak dari pucak, pulau Lombok yang luas terbentang. Danau Segara Anak yang terpapar semburat surya pagi  semakin mempesona diri dan dengan gagahnya gunung Baru Jari tumbuh berdiri. 

Kami menikmati keindahan dengan mengabadikannya bersama. Momen yang sangat berharga dan akan sulit terulang. Kami tak bisa berlama-lama, meski belum puas dan tak akan pernah puas. Waktu jua yang memaksa kami menyudahi karena harus kembali ke camp Pelawangan Sembalun. 

Meskipun Segara Anak tidak menjadi destinasi, kepuasan mendaki puncak Rinjani sudah menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Perjalanan turun kami pun cukup stabil dan lebih cepat di bandingkan saat pendakian. Sampai di Pelawangan Sembalun waktunya isi perut dan lanjut menuruni bukit penyesalan. Sama seperti saat pendakian kembali lagi pada tiap pos peristirahatan terdapat refreshment. Jadi yang diperlukan adalah mempercepat langkah saat seluruh fisik ini telah lelah. Tetapi jiwa ini tidak akan pernah lelah menjelajah dan mensyukuri segala nikmat-Nya.  
Danau Segara Anak terlihat dari puncak

Puncak Rinjani

Itulah sejumput kisah, perjalanan ini tak akan pernah sudah. karena kami hanya titik-titik jiwa yang berdiri diatas bumi yang berotasi. Tiada yang lebih berarti dari saat kini yang akan segera lepas hanya jadi mimpi. Terima kasih Tuhan, segala harapan harus menjelma perjuangan dan itu suatu keniscayaan...

Salam sayang, salam pendakian :)

*ibn

Ruang temu, bersama Sore dalam album No Fruits For Todays 21/05/13

3 komentar:

  1. kereennn.. :D
    btw, font nya kurang gede tuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ihh udah cukup gede sih fontnya... thx udah mau membaca :D

      Hapus
    2. mngkn penglihatan gw aja yg kurang.. hehe
      sama2 bang :)

      Hapus